Dialektis.co – Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Bontang, Ubayya Bengawan memaparkan tantangan fiskal yang dihadapi Bontang dalam upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam kegiatan pelatihan kerajinan UMKM yang digelar di Hotel Equator, Senin (9/2/2026).
Ubayya menjelaskan rendahnya PAD sangat berpengaruh pada pembangunan daerah. Kata dia, saat ini kontribusi PAD pada total APBD baru diangka 15 persen, masih sangat jauh dari target idealnya di atas 60 persen.
Kondisi ini membuat Bontang masih sangat bergantung pada dana transfer pemerintah pusat, dengan porsi mencapai 85 persen.
“Ini berarti ruang gerak pembangunan kita masih sangat ditentukan kebijakan pusat. Saat terjadi efisiensi anggaran, daerah ikut terdampak,” ujarnya.
Hal ini tidak hanya terjadi di Bontang, namun juga di banyak daerah lain. Berdasar data Kemendagri, hanya empat wilayah dengan PAD di atas 60 persen. Yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Menurut Ubayya, Bontang dapat segera menyusul mengoptimalkan PAD. Syaratnya dengan mendorong optimalisasi potensi lokal sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian fiskal.
Ia menilai, pariwisata menjadi sektor yang paling memiliki peluang untuk digenjot. Sejumlah destinasi alam Bontang dapat menjadi daya tarik unggulan.
“Penguatan sektor pariwisata bisa membuka lapangan kerja. Sekaligus menambah PAD. Tapi ini perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha,” tuturnya.
Politisi Golkar itu berharap kegiatan pelatihan yang seperti digelar oleh Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Ekonomi Kreatif (Dsipopar_Ekraf) ini dapat menjadi salah satu titik awal perubahan.
Sehingga, nantinya Bontang tidak hanya bergantung pada dana pusat. Tetapi mampu membangun kekuatan ekonomi dari potensi daerah sendiri. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabun saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg kemudian join.








Discussion about this post