Dialektis.co – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru saja merilis data yang cukup mencegangkan terkait kasus perundungan atau bullying. Tercatat, terdapat 1.052 kasus pelanggaran hak anak yang diterima sepanjang tahun 2025 berlangsung.
Mirisnya Komisioner KPAI Aris Adi Leksono mengungkap 16 persen atau 165 kasus justru terjadi di sekolah. Area yang idealnya menjadi tempat paling aman bagi anak.
Bagi Aris hal ini tidak boleh dianggap remeh. Terlebih 26 di antaranya menelan korban jiwa. Ada yang menggantung diri di sekolah, serta ada yang mengakhiri hidup di rumah sendiri.
“Sepertiga (kasus bunuh diri) terjadi di satuan pendidikan,” kata Aris dalam rapat koordinasi melalui zoom meeting, Sabtu (22/11/2025).
Terangya, tren ini masih terus meningkat. Dalam dua bulan terakhir saja ada enam peristiwa yang mengakibatkan anak-anak meninggal dunia.
Belum lagi kasus ekstrem seperti ledakan bom di SMAN 72 Jakarta Utara. Ratusan bahkan ribuan rangkaian peristiwa bunuh diri para remaja ini berakhir pada benang merah yang bernama “bullying”.
Maraknya kasus perundungan ini memberikan atensi kepada semua pihak. Mencari akar masalah, mempelajari pola peristiwa dan menakar mitigasi yang harus dijalankan.
Salah satunya adalah membentuk Satgas Daerah yang bisa melakukan pencegahan kekerasan di sekolah dengan cara kunjungan ke sekolah secara berkala.
Aris mengatakan, saat ini yang sering terjadi adalah mitigasi dilakukan saat peristiwa telah terjadi. Layanan konseling tidak hadir ketika korban terpuruk, tapi sering ramai ketika korban sudah berjatuhan.
Sebab itu, salah satu rekomendasi KPAI adalah memperkuat kembali satgas di daerah hingga tingkat satuan pendidikan.
Rapat tersebut berjalan dengan alot, termasuk ketika Aris mulai menyinggung platform digital sebagai salah satu penyebab bullying meluas secara cepat.
Dia meminta agar guru memberikan literasi digital kepada anak didiknya dan bisa tegas mengambil tindakan kepada anak-anak yang menyalahi penggunaan internet positif.
“Dalam prinsip perlindungan anak, ada prinsip apa yang disebut dengan kepentingan terbaik buat anak, jika gadget tanpa literasi yang kuat, malah membawa kemudaratan, maka sebenarnya mengancam kepentingan terbaik buat anak,” ucapnya. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post