Dialektis.co – Annisa, Ketua Umum (Ketum) Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) menyampaikan sejumlah pernyataan menarik dalam pidato di Hari Ulang Tahun atau HUT ke-32 Jaker di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat 5 September 2025.
Annisa menguraikan beberapa poin terkait kritik sosial dan politik dimulai dari lebarnya jurang ekonomi, kaum serakah-nomics, ancaman imperialisme. Serta arah perjuangan Jaker yang menyerukan persatuan dan peran seni budaya untuk mengembalikan jati diri bangsa.
“Apresiasi tinggi untuk kawan Wiji Thukul yang sampai saat ini belum ditemukan. Kata-katamu akan selalu hidup, dan kita sudah 32 tahun, kawan,” ujarnya di bagian awal pidato.
Kritik Sosial dan Politik
Kata dia, tidak mudah membangun negara yang dicita-citakan itu. Terlebih dalam situasi Indonesia hari ini yang jurang ekonomi masih menganga antara yang miskin dan yang kaya. Dimana yang miskin makin miskin. Yang kaya makin kaya.
Bahkan mengerucut pada segelintir orang yang dia sebut oligarki atau kaum serakah-nomics. Yakni mereka yang tak pernah puas memperkaya diri sendiri. Bahkan tak segan dan tak malu, menjual kekayaan negeri kepada asing sehingga Indonesia tidak pernah lepas dari imperialisme atau penjajahan asing.
Menurutnya, kaum serakah-nomics tentu saja menghalangi jalan keadilan dan kemakmuran rakyat. Bahkan membuat rakyat tak berdaya.
Rakyat yang tak berdaya menjadikan juga negara yang tak berdaya; tunduk pada kehendak asing; tidak berdaulat secara politik; yang kian lama kehilangan juga akar budaya yang menjadi pondasi negeri.
“Bangsa yang sudah kehilangan jati diri, akar kebudayaannya adalah bangsa yang tidak akan pernah merdeka,” tegasnya.
Bagi Jaker, Indonesia adil makmur tentu saja menolak segala rencana yang berkehendak menghancurkan kedaulatan politik, ekonomi berdaya alias berdikari dan kepribadian bangsa Indonesia yaitu gotong royong.
Dukung Presiden Prabowo Lawan Kaum “Serakah-nomics”
Annisa menegaskan karena itu Jaringan Kebudayaan Rakyat mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto melawan sistem dan kaum “serakah-nomics”.
Yaitu imperialisme-neoliberalisme, oligarki, dan birokrat korup yang telah menjadi penghalang terwujudnya Indonesia yang berdaulat, maju, adil, dan makmur.
Jaker akan mengerahkan segala sumber dayanya dan menyerukan kepada seluruh rakyat untuk bersatu bersama melawan kaum serakah-nomics sehingga keadilan dan kemakmuran dapat terwujud secepat-cepatnya di tanah air Indonesia.
Masih dalam pidatonya, Annisa menyebut Jaker berusaha berdiri dan bersuara, membawa kabar lewat karya mengisi ruang-ruang kehidupan dengan “Lantangnya suara”.
Nyanyian luka, suara sumbang dan ekspresi untuk menolak ketertindasan akan terdengar sehingga menjadi sebuah energi betapa manusia harus diberlakukan manusiawi.
Arah Perjuangan Jaker dan Seruan Persatuan
Kata Annisa, Jaker membawa kata-kata. Membawa pesan yang merdeka menyebar bagai angin memberikan kesadaran untuk berani menuangkan keresahan.
Baginya, karya seni yang jujur dan otentik bukan hanya menyuguhkan keindahan. Tetapi sebuah karya yang melawan. Menggerakkan kalbu bagi telinga yang mendengar serta pasang mata yang melihat.
“Kami tak henti hentinya mengajak semua lapisan masyarakat bersama berjuang mengembalikan jati diri bangsa, bahwa kita memiliki peradaban yang tinggi,” ajaknya.
Harmonisai yang tercipta lewat alunan musik original nusantara dan skenario alur cerita yang akan membawa pesan yang lembut namun dalam bukan hanya sebuah pergelaran wayang.
Tetapi menggambarkan sebuah keresahan yang terjadi di bumi yang kita pijak ini betapa kita harus bergotong royong menyusun kekuatan membangun nusantara adil dan makmur.
Filosofi Wayang “Amarta Binangun”
Pergelaran wayang dengan lakon “Amarta Binangun” atau Membangun Negara Amarta yang digelar Jaker dengan menghadirkan Ki Dalang: Ki Gunarto Gunotalijendro ini disimbolkan sebagai cerminan dan refleksi untuk membangun Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera, serta mendorong semangat gotong royong.
“Semoga persembahan karya seni yang akan sama-sama kita lihat membawa energi baru, untuk bergotong royong membangun bangsa. Setiap orang adalah seniman, setiap tempat adalah panggung,” tutupnya.
Sekedar diketahui, dalam acara puncak peringatan HUT Jaker ke-32 ini selain digelar Konser Wayang Kulit Milenial yang digelar selama dua hari 5-6 September. Juga diluncurkan buku antologi puisi sebagai indikator perjuangan Jaker dan cita-cita luhur para pendiri bangsa.
Sejumlah budayawan, seniman, aktivis, politisi turut menyerahkan karyanya untuk masuk dalam antologi puisi “Luka Yang Tak Menyerah Bara Yang Tak Padam” yang diadakan oleh Jaringan Kebudayaan Rakyat. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.









Discussion about this post