Dialektis.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang memberikan penjelasan terkait fungsi utama Autis Center atau Pusat Layanan Autis (PLA) yang belakangan menuai kritik.
Sekretaris Disdikbud Bontang, Saparuddin, menegaskan bahwa fasilitas tersebut memang tidak dirancang sebagai tempat pembelajaran formal. Melainkan pusat terapi bagi anak dengan spektrum autisme.
Menurutnya, anak autis tetap mengikuti proses pendidikan di sekolah umum maupun Sekolah Luar Biasa (SLB), sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Sementara itu, PLA berperan memberikan terapi untuk membantu mereka beradaptasi, baik secara sosial maupun perilaku.
“Anak-anak ini sekolahnya di sekolah umum. Di PLA mereka diterapi bagaimana bisa beradaptasi dengan lingkungan, karena karakter anak autis itu berbeda-beda,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Sitti Yara Sorot Autis Center Belum Difungsikan Optimal, Sarana Terapi Anak Disabilitas
Dirinya menjelaskan, metode yang diterapkan bukan seperti kegiatan belajar di kelas, melainkan pendekatan individual. Setiap anak ditangani secara khusus dengan jadwal tertentu, menyesuaikan kondisi masing-masing.
“Tidak bisa disamakan seperti belajar biasa. Mereka harus ditangani satu per satu, karena kalau emosinya terganggu bisa mengamuk,” jelasnya.
Saparuddin mencontohkan, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memicu reaksi besar pada anak autis. Kondisi inilah yang menjadi fokus terapi di PLA.
“Ada anak yang terbiasa dijemput dengan motor tertentu, ketika diganti dia tidak mau naik dan marah. Nah, itu yang dilatih agar dia bisa menerima perubahan,” katanya.
Terkait sumber daya manusia, Saparuddin mengungkapkan bahwa tenaga pendamping memang tidak seluruhnya berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa (PLB).
Namun, Disdikbud telah memberikan pelatihan khusus bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Sekitar 75 orang sudah kami latih pada 2024. Termasuk guru-guru sekolah. Sampai sekarang masih dalam pemantauan dan koordinasi dengan UGM,” terangnya.
Baca juga: DPRD Bontang Agendakan Tinjau Autis Center, Soroti Layanan dan Pembiayaan Terapi
Selain itu, Disdikbud juga memastikan kebijakan pendidikan inklusi tetap berjalan, termasuk dalam pelaksanaan ujian bagi siswa berkebutuhan khusus. Untuk Ujian Satuan Pendidikan (USB), soal disesuaikan dengan kemampuan siswa.
“Kami bedakan soalnya agar sesuai kemampuan mereka. Hanya untuk TKA kemarin dari pusat, jadi tidak bisa kami ubah,” jelasnya.
Lebih jauh, dirinya berharap masyarakat dapat memahami bahwa Autis Centre bukan sekolah formal, melainkan bagian dari layanan pendukung pendidikan inklusif.
Saparuddin menilai keberadaan PLA justru penting untuk membantu anak autis berkembang dan beradaptasi di lingkungan sosialnya. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg kemudian join.








Discussion about this post