Dialektis.co
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KOLOM

Chairil Anwar di Keabadian Walau Singkat Namun Melegenda

Opini

Redaksi by Redaksi
April 5, 2022
Chairil Anwar di Keabadian Walau Singkat Namun Melegenda
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Abdul Rajak Keliwar dan Novita N*

“Aku mau hidup seribu tahun lagi” – Chairil Anwar (Puisi Aku, 1943).

DIALEKTIS.CO – Siapa yang tidak mengenal legenda sastra Indonesia Chairil Anwar. Bagi kita yang menyukai sastra terutama puisi dan suka menulis puisi sudah pasti mengenal salah satu sastrawan Indonesia ini, Chairi Anwar yang juga adalah pelopor terbentuknya angkatan 45.

Membicarakan angkatan 45 tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok Chairil Anwar. Chairil Anwar tidak hanya terkenal karena pelopor angkatan sastra tersebut, tetapi pada dasarnya Ia memang popular karena mudah bergaul.

Ia menghabiskan masa mudanya dengan berkumpul bersama seniman-seniman dari berbagai bidang, sehingga pada zamannya tidak heran jika Ia paling banyak dikenal di antara Sastrawan lainnya.

Dapat dikatakan pula dari banyaknya sastrawan Angkatan 45, Chairil Anwar merupakah salah satu yang menggunakan tulisan-tulisannya di dalam sajak maupun puisi untuk mewakili kegelisahan hatinya terhadap kebijakan yang berlaku pada masa itu, sehingga namanya semakin dikenal karena keberaniannya.

Chairil Anwar tahu bagaimana cara memanfaatkan dan menggunakan bahasa untuk menyampaikan pendapat dengan karya sastra. Karena hal itu juga, karya sastra sempat menjadi hal yang ditakuti oleh beberapa pihak yang memiliki kedudukan pada masa itu.

Dia tidak memiliki julukan-julukan tertentu seperti tokoh-tokoh besar Indonesia lainnya, seperti Sultan Hassanudin Si Ayam Jantan dari Timur atau seperti Bung Karno Putra Sang Fajar.

Banyak orang justru memberikan julukan Si Binatang Jalang dari penggalan puisi Chairil Anwar berjudul Aku karena merupakan puisi miliknya yang paling membekas.

Meskipun tidak memiliki julukan yang superior, perannya bagi Bahasa, Seni, dan Sastra di Indonesia jauh dari kata remeh. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Chairil Anwar membawa warna tersendiri bagi perkembangan Sastra di Indonesia.

Pecinta Sastra tentu tahu bagaimana awalnya Sastra Indonesia  hanya seputar prosa sebagai hiburan dan bahan bacaan rakyat.

Munculnya sosok Chairil Anwar ini mengubah Sastra terutama Puisi tidak hanya sebagai cerita belaka, tetapi Dia menggunakannya untuk menyampaikan pesan dan kritik pada zamannya.

Hal itulah yang membuat Chairil Anwar berbeda dengan pendahulu-pendahulunya.

Perjalanan hidup Pujangga Indonesia ini bisa dibilang cukup singkat, lahir pada tanggal 26 Juli 1922 menikmati kehidupannya sebagai Sastrawan Indonesia dan tiba saat usianya 27 tahun dirinya dipanggil oleh Sang Empunya Kehidupan.

Walau singkat namun berarti, semua orang tidak lupa dengan namanya. Memberi bekas pada rekan-rekan seangkatan, anak, cucu, dan semua pecinta Sastra di seluruh pelosok Nusantara.

Bisa dibayangkan tentunya bagaimana Chairil Anwar mampu memberikan kesan mendalam hingga sosoknya tetap dikenang hingga saat ini.

Kita akan mengalami hal yang sama, kematian tidak dapat dihindari dan Chairil Anwar tahu pasti itu juga akan datang kepadanya. Seolah sudah siap, ketika Dia dipanggil Dia pergi tidak sia-sia.

Seperti Taji yang tajam pada kaki Ayam Jantan yang mampu memberi bekas pada tanah dan makhluk sekitarnya, demikian pula Chairil Anwar memberikan talentanya untuk tempat kelahirannya sehingga kita dapat menikmati karya-karyanya hingga hari ini.

Ketidakhadiran sosoknya di antara kita saat ini tidak bisa membatasi ruang apresiasi bagi semua karya Chairil yang telah dilahirkannya. Maha Karya sang Pujangga yang ditinggalkannya untuk kita merupakan warisan dan juga wujud keabadian namanya.

Masih terdengar puisi-puisinya dibacakan milenial dan anak-anak sekolah masih mengunjungi pusaranya menaburkan bunga serta membasahi tanahnya.

Hingga kepergian Chairil pada 28 April 1989 setelah perjuangan melawan penyakit yang dideritanya, puluhan sajak, puisi, maupun prosa lahir dari tangan Sang Pujangga selama 27 tahun kehidupannya.

Karya-karya yang dihasilkan memiliki warna berbeda dan tentu itu memberikan pengaruh besar bagi perkembangan Sastra Indonesia.

Ia memberikan pandangan lain, bahwa makna dari setiap kata-kata yang kita gunakan tidak hanya sebatas makna di dalam kamus, tetapi sesuai konteks.

Isi, makna, dan penggunaan diksi yang menjadi keunikan Chairil dalam menuliskan berbagai karya Sastra. Chairil menjadikan setiap karyanya sebagai pengganti lidah untuk berbahasa, menggunakan karyanya untuk menyampaikan pesan dengan kemasan dan diksi yang unik, sehingga untuk memahami maknanya tidak bisa hanya mengandalkan kamus.

Itulah peran konteks yang dimaksud oleh Chairil Anwar, memberikan keluasan bagi pembaca untuk berimajinasi dengan pilihan-pilihan kata yang digunakan untuk memaknai setiap rangkaian sajak, puisi, maupun prosanya.

Chairil menggambarkan bagaimana kegiatan memahami makna karya sastra yang tidak boleh dibatasi dengan kebakuan dan setiap kata yang dipilih memiliki kaitan satu sama lain.

Kita bisa menganggap bahwa setiap kata dalam sebuah karya sastra seperti gelas kosong yang dapat kita isi maknanya sesuai dengan konteks. Keunikan-keunikan itulah yang membuat karya Sastra lebih hidup ditangan polesan Chairil Anwar.

Dari semua hal yang telah dilakukan Chairil demi perkembangan Sastra Indonesia, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana Ia menggunakan karya Sastra untuk membuat perubahan.

Perubahan yang dilakukannya tidak dibatasi dalam kurun waktu tertentu, tetapi apa yang sudah dibuatnya masih kita gunakan hingga sudah 33 tahun lamanya kita ditinggalkan Sang Pujangga sejak 1989.

Itulah arti dari keabadian Chairil Anwar. Raganya sudah hilang, tetapi warisan yang ditinggalkannya masih kita gunakan. Banyak karya yang Ia hasilkan menunjukkan bahwa Ia tumbuh bersama talenta yang dimilikinya dengan pesat, tetapi Ia juga layu dengan cepat oleh karena penyakit. Chairil Anwar pergi dengan meninggalkan kisah hidup yang Ia poles menjadi karya sastra.

Karya-karya sastra yang dihasilkannya menjadi bukti nyata bahwa betul seperti dengan apa yang Ia tuliskan “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Penggalan puisi tersebut seperti sebuah doa dan Ia benar-benar akan hidup seribu tahun lamanya di hati setiap pecinta sastra Indonesia. (*)

*(Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Mulawarman)

Print Friendly, PDF & Email
ShareTweet
Previous Post

Ada Mural di Simpang Bukit Indah, Seniman Ini Aktor di Belakangnya

Next Post

Bazar Ramadan di Lapangan Parkesit, Minyak Goreng Diserbu Pembeli

Related Posts

Demokrasi Tanpa Ilusi: Mengapa Koreksi Pilkada Langsung Justru Menyelamatkan Kedaulatan
KOLOM

Demokrasi Tanpa Ilusi: Mengapa Koreksi Pilkada Langsung Justru Menyelamatkan Kedaulatan

Udin Rizky, PRIMA Kaltim
KOLOM

Serakahnomic: Ideologi Perampokan Terorganisir atas Nama Pasar

Purbaya Minta DPR Ingatkan Pertamina Soal Janji Bangun Kilang Baru, Peluang Bontang?
KOLOM

Opini: Defisit Bukan Masalah, Ketakutan pada Defisitlah yang Bermasalah

Opini: Operasi 300 Menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela
KOLOM

Opini: Operasi 300 Menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Perkuat Soliditas, JMSI Lampung Gelar Upgrading Calon Pengurus
KOLOM

Perkuat Soliditas, JMSI Lampung Gelar Upgrading Calon Pengurus

Agus Jabo Tegaskan PRIMA Dukung Sikap Presiden, Korporasi Tak Boleh Kalahkan Negara
WARTA

Agus Jabo Tegaskan PRIMA Dukung Sikap Presiden, Korporasi Tak Boleh Kalahkan Negara

Next Post
Bazar Ramadan di Lapangan Parkesit, Minyak Goreng Diserbu Pembeli

Bazar Ramadan di Lapangan Parkesit, Minyak Goreng Diserbu Pembeli

Discussion about this post

Follow Us

dialektis-logo-1
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN PEMBERITAAN RAMAH ANAK

© 2022 DIALEKTIS.CO – Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS

© 2021 DIALEKTIS.CO - Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

news-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakinjp

yakinjp

ayowin

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

maujp

maujp

maujp

maujp

MAUJP

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

Situs Agen Togel

MAUJP

sv388

maujp

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

118000126

118000127

118000128

118000129

118000130

118000131

118000132

118000133

118000134

118000135

118000136

118000137

118000138

118000139

118000140

118000141

118000142

118000143

118000144

118000145

118000146

118000147

118000148

118000149

118000150

118000151

118000152

118000153

118000154

118000155

118000156

118000157

118000158

118000159

118000160

118000161

118000162

118000163

118000164

118000165

118000166

118000167

118000168

118000169

118000170

128000136

128000137

128000138

128000139

128000140

128000141

128000142

128000143

128000144

128000145

128000146

128000147

128000148

128000149

128000150

128000151

128000152

128000153

128000154

128000155

128000156

128000157

128000158

128000159

128000160

128000161

128000162

128000163

128000164

128000165

128000166

128000167

128000168

128000169

128000170

128000171

128000172

128000173

128000174

128000175

138000111

138000112

138000113

138000114

138000115

138000116

138000117

138000118

138000119

138000120

138000121

138000122

138000123

138000124

138000125

138000126

138000127

138000128

138000129

138000130

138000131

138000132

138000133

138000134

138000135

138000136

138000137

138000138

138000139

138000140

148000146

148000147

148000148

148000149

148000150

148000151

148000152

148000153

148000154

148000155

148000156

148000157

148000158

148000159

148000160

148000161

148000162

148000163

148000164

148000165

148000166

148000167

148000168

148000169

148000170

148000171

148000172

148000173

148000174

148000175

168000116

168000117

168000118

168000119

168000120

168000121

168000122

168000123

168000124

168000125

168000126

168000127

168000128

168000129

168000130

168000131

168000132

168000133

168000134

168000135

168000136

168000137

168000138

168000139

168000140

168000141

168000142

168000143

168000144

168000145

178000136

178000137

178000138

178000139

178000140

178000141

178000142

178000143

178000144

178000145

178000146

178000147

178000148

178000149

178000150

178000151

178000152

178000153

178000154

178000155

178000156

178000157

178000158

178000159

178000160

178000161

178000162

178000163

178000164

178000165

178000166

178000167

178000168

178000169

178000170

178000171

178000172

178000173

178000174

178000175

178000176

178000177

178000178

178000179

178000180

188000206

188000207

188000208

188000209

188000210

188000211

188000212

188000213

188000214

188000215

188000216

188000217

188000218

188000219

188000220

188000221

188000222

188000223

188000224

188000225

188000226

188000227

188000228

188000229

188000230

188000231

188000232

188000233

188000234

188000235

198000111

198000112

198000113

198000114

198000115

198000116

198000117

198000118

198000119

198000120

198000121

198000122

198000123

198000124

198000125

198000126

198000127

198000128

198000129

198000130

198000131

198000132

198000133

198000134

198000135

198000136

198000137

198000138

198000139

198000140

238000106

238000107

238000108

238000109

238000110

238000111

238000112

238000113

238000114

238000115

238000116

238000117

238000118

238000119

238000120

238000121

238000122

238000123

238000124

238000125

238000126

238000127

238000128

238000129

238000130

238000131

238000132

238000133

238000134

238000135

238000136

238000137

238000138

238000139

238000140

238000141

238000142

238000143

238000144

238000145

238000146

238000147

238000148

238000149

238000150

news-1701