Dialektis.co – Belakangan ini Indonesia kembali berduka setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi, Sumatra Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, pada penghujung November 2025.
Bencana kali ini tergolong salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir karena menelan lebih dari 400 korban jiwa dan membuat ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Kerusakan ekosistem hutan di sekitar wilayah terdampak, yang dipicu aktivitas pertambangan hingga ekspansi perkebunan kelapa sawit, disebut sebagai salah satu faktor utama yang memperparah banjir bandang tersebut.
Kondisi ini menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan strategi jangka panjang yang lebih serius untuk mencegah bencana serupa terulang.
Di sisi lain, sejumlah negara telah berhasil mengembangkan pendekatan penanganan banjir yang jauh lebih terstruktur, modern, dan visioner.
Mengamati langkah mereka bisa menjadi bahan pembelajaran penting bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Negara mana saja yang bisa kita teladani? Berikut pembahasannya.
1. Belanda: Mengolah dan Memberi Ruang Untuk Air
Belanda sering dijadikan rujukan global dalam urusan mitigasi banjir karena sepertiga wilayahnya berada di bawah permukaan laut.
Negara ini tidak memilih opsi “mengusir” air, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya. Konsep living with water menjadi pondasi utama perencanaan kotanya.
Salah satu inovasi yang paling terkenal adalah polder system, yaitu kawasan rendah yang dikelilingi tanggul dan dilengkapi sistem pompa besar untuk mengendalikan air secara terus-menerus.
Belanda juga menerapkan program Ruimte voor de Rivier atau Room for the River, memberi ruang lebih luas bagi sungai untuk menampung luapan air secara terkendali, bukan justru mempersempit alirannya seperti yang sering terjadi pada urbanisasi di negara lain.
Selain itu, perencanaan kota mereka menempatkan air sebagai elemen penting: kanal, kolam retensi, hingga water plaza dirancang untuk menampung air hujan ekstrem sekaligus menjadi ruang publik ketika cuaca cerah.
Pendekatan ini membuktikan bahwa desain kota yang ramah air bukan hanya efisien, tetapi juga estetis dan fungsional.
2. Jepang: Kombinasi Infrastruktur Raksasa dan Edukasi Ketat
Jika Belanda unggul dalam rekayasa lahan, Jepang menonjol dalam skala infrastrukturnya.
Negara ini membangun sistem pengendali banjir bawah tanah yang luar biasa, salah satunya The Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel atau terowongan raksasa sepanjang puluhan kilometer yang menyalurkan air dari kawasan padat penduduk menuju sungai besar.
Infrastruktur teknis ini berjalan seiring dengan edukasi publik yang intensif.
Jepang menyediakan peta risiko banjir yang sangat detail, sehingga setiap warga dapat mengetahui tingkat ancaman di sekitar tempat tinggalnya dan merencanakan langkah mitigasi.
Selain itu, budaya evakuasi cepat sudah mengakar kuat.
Simulasi rutin, latihan evakuasi, dan komunikasi darurat yang jelas membuat warga terbiasa bertindak tepat waktu ketika bencana datang.
Hasilnya, mitigasi banjir di Jepang bukan hanya soal beton dan mesin, tetapi juga kesiapan masyarakat.
3. Singapura: Drainase Modern di Kota Kecil nan Padat
Sebagai negara kecil dengan tingkat curah hujan tinggi, Singapura bahkan tidak punya banyak ruang untuk kesalahan.
Kota ini membangun sistem drainase yang cerdas dan responsif.
Melalui program PUB Active, Beautiful, Clean (ABC) Waters, Singapura mengubah sungai dan kanal bukan hanya menjadi saluran air, tetapi juga ruang publik yang bersih, aman, dan estetis.
Pendekatan ini menjadikan drainase sebagai bagian harmonis dari kehidupan kota.
Lebih lanjut, mereka menggunakan sistem drainase dua tingkat (dual-flow system), yang mengatur aliran air normal dan aliran ekstrem dalam dua jalur berbeda agar banjir tidak mudah terjadi.
Semua ini didukung oleh sensor real-time di berbagai titik kota yang memonitor ketinggian air dan secara otomatis mengaktifkan pompa bila risiko meningkat.
Respons cepat inilah yang membuat Singapura jarang mengalami banjir besar meski wilayahnya kecil dan penduduknya padat.
4. Korea Selatan: Revitalisasi Total Sungai
Korea Selatan memberikan contoh bagaimana revitalisasi sungai dapat menjadi solusi banjir sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.
Proyek paling ikonik adalah Cheonggyecheon Stream Restoration di Seoul.
Konon, sungai ini tertutup beton dan berada di bawah jalan layang yang padat.
Pemerintah kemudian membongkar seluruh struktur tersebut dan mengembalikan sungai ke bentuk alaminya.
Hasilnya bukan hanya ruang hijau yang menyegarkan, tetapi juga sistem penyerapan air yang jauh lebih baik.
Pendekatan ini membuktikan bahwa renaturalisasi atau mengembalikan sungai ke kondisi alami, lebih efektif daripada hanya membangun beton lebih tinggi.
Korea Selatan juga menerapkan sistem pengelolaan air berbasis teknologi, seperti pemantauan digital dan pintu air otomatis, yang membuat kota besar seperti Seoul lebih siap menghadapi curah hujan ekstrem.
5. Amerika Serikat (New Orleans): Reformasi Sistemik setelah Trauma Badai Katrina
New Orleans adalah contoh bagaimana bencana besar dapat menjadi titik balik.
Setelah Badai Katrina menghancurkan kota pada 2005, Amerika Serikat mereformasi total sistem pengendalian banjirnya.
Tanggul dan gerbang air diperkuat dengan standar yang jauh lebih ketat, dan audit dilakukan secara rutin untuk memastikan seluruh struktur tetap layak.
Namun Amerika tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Mereka memperluas penggunaan green infrastructure seperti taman serapan, lahan basah buatan, bioswale, dan atap hijau untuk membantu mengurangi limpasan air hujan.
Pendekatan ini membuat air terserap lebih banyak sebelum mencapai sistem drainase utama.
Di sisi lain, koordinasi lintas lembaga (kota, negara bagian, hingga federal) dibenahi agar respons bencana menjadi lebih cepat dan efektif.
Pengalaman pahit Katrina mengajarkan bahwa mitigasi banjir harus berbasis kolaborasi dan perencanaan menyeluruh ketimbang penanganan darurat ketika bencana terjadi.
—
Banjir adalah persoalan sistemik yang membutuhkan komitmen jangka panjang dengan solusi yang cukup kompleks dan membutuhkan waktu.
Pelajaran dari berbagai negara menunjukkan bahwa penanganan banjir tidak bisa mengandalkan satu pendekatan saja.
Infrastruktur besar memang penting, tetapi tanpa perencanaan tata ruang yang benar, teknologi pemantauan, dan kesadaran masyarakat, semua upaya itu tidak akan berjalan optimal.
Di banyak negara, termasuk Jepang dan Singapura, fasilitas publik seperti terowongan pengalir banjir, stasiun pompa, hingga pusat komando bencana selalu dilengkapi mesin genset untuk memastikan seluruh sistem tetap berfungsi saat listrik padam akibat hujan ekstrem.
Praktik ini penting karena alat pemantau banjir, pintu air otomatis, dan pompa drainase sangat bergantung pada suplai daya yang stabil. (*/Arm).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post