Dialektis.co
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home KOLOM

Tarian Covid-19 dan Kebijakan Pemerintah

Opini

Redaksi by Redaksi
July 25, 2021
Tarian Covid-19 dan Kebijakan Pemerintah

M Sukri (Foto/Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Catatan : M. Sukri

DIALEKTIS.CO – Lebih setahun pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Beragam siasat negara, tak cukup ampuh menghentikan ‘tarian’ virus yang pertama kali merebak di Wuhan, China itu. Bukannya berkurang, lonjakan angka Covid makin sulit dibendung.

Akhir Desember 2019, Covid masih ‘berdansa’ di Jakarta dan Bogor, tapi sekarang Covid justru terus berselancar ke pegunungan dan lembah pedalaman.

Terbaru, Covid-19 merenggut nyawa sepasang suami istri di Kampung Linggang Purworejo, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat. Daerah pedalaman berjarak sekitar 9 jam dari ibu kota Kalimantan Timur, Samarinda, Mereka meninggalkan seorang anak bernama Alviano Dava Raharjo atau Vino, bahkan Gubernur Kaltim Isran Noor pun berinisiatif untuk mengadopsi Vino yang kini harus hidup sebatang kara.

Istilah penanganan Covid pun silih berganti. Hampir tak terhitung. Perubahan judul itu setiap hari melintas di ruang pikir rakyat yang kian sesak berkelahi dengan urusan perut mereka.

Karantina, lockdown, local lockdown, PSBB, PPKM, PPKM Mikro, PPKM Mikro Diperketat, PPKM Darurat sampai sekarang diubah lagi menjadi PPKM Level 4.

Sementara dari rumah sakit dan rumah-rumah karantina para tenaga kesehatan, dokter dan perawat mulai kelelahan. Jumlah kasus yang terus melonjak membuat mereka harus mengeluarkan tenaga super ekstra dengan tingkat kehati-hatian yang super ketat.

Pasalnya, sudah tidak terhitung tenaga kesehatan yang terpapar dan akhirnya meninggal dunia.

Pemimpin negara tak jarang selisih pendapat di depan rakyat. Koordinator PPKM Darurat Jawa Bali Luhut Binsar Pandjaitan misalnya bilang, Covid-19 terkendali.

Sementara Si Pemberi Amanah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bilang Covid-19 sudah tidak terkendali sehingga membingungkan rakyat.

Belakangan, Luhut yang juga duduk di kursi Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, mengakui keganasan Covid-19.

Secara terbuka dia lalu mengatakan, varian Delta tidak terkendali. Berikutnya, dia meminta masyarakat “paham” upaya keras dari pemerintah untuk menangani pandemi ini. Sehebat apa pun upaya pemerintah, tanpa dukungan masyarakat dan komponen bangsa lainnya, tidak akan maksimal. Kata Luhut.

Berbagai cara sudah dilakukan memang. Baik dalam upaya pencegahan dan penanganan pasien Covid-19, maupun langkah-langkah strategis untuk memulihkan ekonomi nasional yang jungkir balik dihajar Covid.

Mulai memberikan paket sembako Covid yang juga ‘disunat’ sana-sini oleh menteri dari partai penguasa. Ada pula bantuan untuk UMKM, masyarakat miskin, pekerja bergaji di bawah UMP dan segala macam. Tapi rasanya, kehidupan masyarakat tetap saja sulit.

Berbagai kebijakan pemerintah mulai soal protokol kesehatan, vaksin, refocusing anggaran untuk Covid dan segala kebijakan lainnya, ternyata tidak cukup ampuh untuk menghentikan Covid.

Kelompok kritis seperti Fadli Zon berpandangan. Pemerintah salah dalam mendiagnosa pandemi ini. Akibatnya, strategi dan kebijakan yang diambil pun tidak akurat. Hasilnya bisa dilihat secara kasat mata. Angka kasus positif Covid-19 di Indonesia, kian mengkhawatirkan.

Salah satu langkah yang menurut Fadli Zon, tidak tepat adalah ketika Indonesia tidak bisa menghitung betapa rawan pandemi ini hingga urusan pemenuhan oksigen pasien.

Juni lalu misalnya, ketika varian Delta mengamuk di India, hingga rumah sakit di sana lumpuh kekurangan oksigen, Indonesia tanpa banyak analisa mengirimkan berton-ton oksigen ke India. Sebulan kemudian, justru banyak warga Indonesia yang terkapar mati karena rumah sakit sudah kehabisan oksigen.

Maka kritik pun dilancarkan. Penanganan pandemi ini, tidak bisa hanya dipimpin oleh Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi dan Menko Perekonomian. Upaya mengatasi pandemi ini harus langsung dipimpin oleh Presiden Jokowi.

Maka tidak heran, di tengah masih tingginya kasus positif yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai pembatasan, masyarakat hanya bisa mengeluh.

Beragam meme di media sosial pun bermunculan. Salah satunya momen saat Presiden Joko Widodo terlihat duduk di tempat tidur di salah satu rumah sakit. Entah kapan foto itu diambil. Lantas di bawahnya tertulis “Bapak jangan sakit ya, biar rakyat aja yang sakit, kalo bapak yang sakit, siapa dong nyakitin rakyat.”

Tentu ini sindiran yang cukup menyengat Presiden. Jokowi pasti tidak ada sedikit pun niatan menyakiti rakyatnya. Sebaliknya, Presiden pasti punya keinginan besar, mimpi besar dan kerja besar untuk melindungi rakyatnya. Menyehatkan rakyat dan memulihkan kembali ekonomi nasional.

Tapi apakah niat Presiden itu benar-benar diikuti para pembantunya? Nah itu yang sulit diungkapkan dan sulit dibuktikan. Kecuali yang sedang dalam proses hukum untuk korupsi bantuan paket sembako korban Covid yang menyeret Menteri Sosial Jualiari Batubara dari PDIP.

Banyak usaha tutup, berjualan dibatasi, sopir taksi tak dapat penumpang, kuli pelabuhan makin sulit cari rejeki. Rakyat disuruh berdiam diri di rumah tapi pekerja WNA, leluasa masuk seperti di rumah sendiri.

Setujukah anda jika setahun ke depan gaji insentif dan lain-lain hak pejabat, mulai dari Presiden, Menteri dan setingkatnya, serta para kepala daerah, termasuk gaji/honor/tunjangan dan lain-lain pendapatan anggota badan-badan yang digaji negara dipotong untuk rakyat yang sedang menghadapi simalakama antara menghindari sakit dan harus mencari makan.

Para pejabat mungkin masih bisa makan, meski satu atau dua tahun berdiam di rumah, tapi orang-orang kecil yang belum tentu bisa makan dua kali sehari, akan semakin sulit bila tak diurusi oleh negara.

Diagnosa pandemi ini memang harus tepat. Sebab jika tidak, pasti bukan pejabat yang sakit, tapi rakyat. Karena mereka pasti sulit cari makan dan tak punya duit untuk bayar utang.

Rakyat itu tak ubahnya seperti sandal jepit. Jadi kemana pun sang empunya membawa pergi, dia akan setia dan patuh mengikuti sang tuan. Meski harus selalu sakit karena selalu di bawah dan diinjak-injak.

Maka kepada para pemimpin, bahagiakan lah rakyat kalian, jangan sakiti, jangan pula dana bansos dikorupsi, atau sibuk mencari keuntungan gede dengan kekuasaan di tangan di tengah sakit yang sampai hari ini masih dirasakan rakyat yang faktanya semakin sulit mencari makan.

Rakyat sebenarnya sudah muak dengan banyak diskusi, karena mereka hanya butuh eksekusi. Mereka juga akan taat patuh protokol kesehatan dan ikut menyukseskan program vaksinasi agar bisa kembali makan nasi, sehari tiga. (*)

*Penulis adalah Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kaltim.

Print Friendly, PDF & Email
Tags: JMSI KaltimM Sukri
ShareTweet
Previous Post

Windy Cantika Rebut Mendali Pertama bagi Indonesia di Olimpiade Tokyo

Next Post

5 Berita Terpopuler: TKA China Tewas, Masjid Al Ikhlas Loktuan Potong 17 Kurban

Related Posts

Demokrasi Tanpa Ilusi: Mengapa Koreksi Pilkada Langsung Justru Menyelamatkan Kedaulatan
KOLOM

Demokrasi Tanpa Ilusi: Mengapa Koreksi Pilkada Langsung Justru Menyelamatkan Kedaulatan

Udin Rizky, PRIMA Kaltim
KOLOM

Serakahnomic: Ideologi Perampokan Terorganisir atas Nama Pasar

Purbaya Minta DPR Ingatkan Pertamina Soal Janji Bangun Kilang Baru, Peluang Bontang?
KOLOM

Opini: Defisit Bukan Masalah, Ketakutan pada Defisitlah yang Bermasalah

Opini: Operasi 300 Menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela
KOLOM

Opini: Operasi 300 Menit, Bedah Teknis Penculikan Presiden Venezuela

Perkuat Soliditas, JMSI Lampung Gelar Upgrading Calon Pengurus
KOLOM

Perkuat Soliditas, JMSI Lampung Gelar Upgrading Calon Pengurus

Agus Jabo Tegaskan PRIMA Dukung Sikap Presiden, Korporasi Tak Boleh Kalahkan Negara
WARTA

Agus Jabo Tegaskan PRIMA Dukung Sikap Presiden, Korporasi Tak Boleh Kalahkan Negara

Next Post
Dendam Dipecat, Pekerja Lokal Hantam TKA China Dengan Besi Hingga Tewas

5 Berita Terpopuler: TKA China Tewas, Masjid Al Ikhlas Loktuan Potong 17 Kurban

Discussion about this post

Follow Us

dialektis-logo-1
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN PEMBERITAAN RAMAH ANAK

© 2022 DIALEKTIS.CO – Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
    • DPRD Kaltim
    • DPRD Bontang
    • DPRD Kukar
    • DPRD Kutim
  • EKBIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • PARIWARA
  • KOLOM
  • VIDEO
  • INFOGRAFIS

© 2021 DIALEKTIS.CO - Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

content-ciaa-1701

yakinjp


sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

yakinjp

judi bola online

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

ayowin

yakinjp id

mahjong ways

judi bola online

mahjong ways 2

JUDI BOLA ONLINE

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

mahjong ways slot

sbobet88

live casino online

sv388

taruhan bola online

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

118000156

118000157

118000158

118000159

118000160

118000161

118000162

118000163

118000164

118000165

118000166

118000167

118000168

118000169

118000170

118000171

118000172

118000173

118000174

118000175

118000176

118000177

118000178

118000179

118000180

118000181

118000182

118000183

118000184

118000185

118000186

118000187

118000188

118000189

118000190

118000191

118000192

118000193

118000194

118000195

118000196

118000197

118000198

118000199

118000200

128000166

128000167

128000168

128000169

128000170

128000171

128000172

128000173

128000174

128000175

128000176

128000177

128000178

128000179

128000180

128000181

128000182

128000183

128000184

128000185

128000186

128000187

128000188

128000189

128000190

128000191

128000192

128000193

128000194

128000195

138000131

138000132

138000133

138000134

138000135

138000136

138000137

138000138

138000139

138000140

138000141

138000142

138000143

138000144

138000145

138000146

138000147

138000148

138000149

138000150

138000151

138000152

138000153

138000154

138000155

138000156

138000157

138000158

138000159

138000160

148000166

148000167

148000168

148000169

148000170

148000171

148000172

148000173

148000174

148000175

148000176

148000177

148000178

148000179

148000180

148000181

148000182

148000183

148000184

148000185

148000186

148000187

148000188

148000189

148000190

148000191

148000192

148000193

148000194

148000195

168000136

168000137

168000138

168000139

168000140

168000141

168000142

168000143

168000144

168000145

168000146

168000147

168000148

168000149

168000150

168000151

168000152

168000153

168000154

168000155

168000156

168000157

168000158

168000159

168000160

168000161

168000162

168000163

168000164

168000165

178000166

178000167

178000168

178000169

178000170

178000171

178000172

178000173

178000174

178000175

178000176

178000177

178000178

178000179

178000180

178000181

178000182

178000183

178000184

178000185

178000186

178000187

178000188

178000189

178000190

178000191

178000192

178000193

178000194

178000195

178000196

178000197

178000198

178000199

178000200

178000201

178000202

178000203

178000204

178000205

178000206

178000207

178000208

178000209

178000210

188000226

188000227

188000228

188000229

188000230

188000231

188000232

188000233

188000234

188000235

188000236

188000237

188000238

188000239

188000240

188000241

188000242

188000243

188000244

188000245

188000246

188000247

188000248

188000249

188000250

188000251

188000252

188000253

188000254

188000255

198000151

198000152

198000153

198000154

198000155

198000156

198000157

198000158

198000159

198000160

238000031

238000032

238000033

238000034

238000035

238000036

238000037

238000038

238000039

238000040

238000136

238000137

238000138

238000139

238000140

238000141

238000142

238000143

238000144

238000145

238000146

238000147

238000148

238000149

238000150

238000151

238000152

238000153

238000154

238000155

238000156

238000157

238000158

238000159

238000160

238000161

238000162

238000163

238000164

238000165

238000166

238000167

238000168

238000169

238000170

238000171

238000172

238000173

238000174

238000175

content-ciaa-1701