Dialektis.co
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home RAGAM KOLOM

Prevab TNK, Hutan Habitat Orang Utan Itu Terancam Perambahan

Redaksi by Redaksi
November 7, 2021
Prevab TNK, Hutan Habitat Orang Utan Itu Terancam Perambahan

Orang Utan di Kawasan Prevab TNK (Foto/dok.Dialektis.co)

Share on FacebookShare on Twitter
  • Wisata Alam Prevab merupakan habitat alami Orang Utan Kalimantan. Luasnya, 320 hektare di wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur.
  • Saat ini kawasan Prevab, tak lepas dari ancaman perambahan. Klaim penguasaan lahan, hingga usulan izin penggarapan dari sejumlah kelompok menjadi ancaman tersendiri.
  • Sebagai wilayah konservasi, hutan tepi sungai Sangatta ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Kutai (TNK).
  • Sejarawan sebut lahan TNK telah ditetapkan sebagai kawasan Suaka Margasatwa Sejak 1936 oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Parikesit.

DIALEKTIS.CO – Langkah Hariyadi terhenti di area TJ 27, ia bergegas menerabas lembabnya objek wisata alam Privab, Taman Nasional Kutai (TNK) di tepi Sungai Sangatta.

“Itu ada, pongo pygmaeus morio,” katanya sambil menunjuk ke atas pucuk pohon sekira tinggi 40-an meter, Minggu (7/11/2021).

Tingkah Hariyadi menarik perhatian 10 pengunjung yang mengikutinya. Rombongan ini adalah peneliti dari Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul) dan 7 Jurnalis asal Kota Bontang yang tengah mengunjungi batas utara kawasan TNK.

Tampak, kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan mengarah coklat itu memakan buah belawan di pucuk pohon.

Gerakannya cukup lamban, bulu orang utan itu tampak tidak terlalu lebat. Utamanya di bagian punggung dan pundak.

Hariyadi mengaku tak mengenali ciri orang utan yang ditemui pagi sekira pukul 09.30 Wita itu.

“Jantan dewasa, sekira 30 tahun. Baru sepertinya, tidak termasuk yang sudah kita amati, beri nama,” sebut Hariyadi, pengelola Privab.

Orang Utan di Kawasan Prevab TNK (Foto/Hariyadi)

Kawasan Prevab merupakan habitat asli Orang Utan Kalimantan. Luasnya, 320 hektare menjadi salah satu area inti di dalam kawasan TNK.

Dr. Yaya Rayadin, dosen sekaligus peneliti Fakultas Kehutanan Unmul, menyatakan orang utan ini sekaligus menunjukkan bahwa lokasi hutan hujan tropis ini wajib dijaga sebagai kawasan konservasi flora dan fauna.

“TNK ini miniatur hutan tropis dataran rendah yang berada di tengah-tengah kota. TNK ini lanskap-nya lengkap, jadi kalau mau lihat keanekaragaman benerbesity alam ya di TNK ini,” ujarnya.

Menurutnya isu keselamatan Orang Utan penting untuk terus diangkat. Bukan sekedar tentang satwa yang unik di Dunia. Sebab, bicara Orang Utan tentu juga akan bicara tentang ekosistem dan keselamatan hutan secara keseluruhan.

Kata dia, dari sisi kehidupan melindungi TNK sama dengan melindungi sumber air, utamanya di wilayah sekitar aliran Sungai Sangatta dan Sungai Santan. Serta, posisinya dari isu karbon internasional juga penting.

“TNK itu mau dilihat dari sisi mana saja strategis. Kalau masyarakat ini semangat merusak TNK, sebetulnya mereka ini sedang semangat merusak kehidupannya sendiri,” tegasnya.

Lebih jauh, Dr. Yaya mengungkapkan meski dari total luasan 180.000 Ha TNK di dalamnya termasuk ada jalan dan pemukiman. Namun ada sekitar 140.000 Ha, masih natural forest yang harus semangat dijaga dari perambahan dan pengalihan fungsi.

Peneliti Fakultas Kehutanan Unmul (Foto/Yudi)

Dengan segala potensi yang ada, bagi Dr. Yaya, TNK ke depan harusnya dapat dijadikan sumber plasma nutfah untuk mendapatkan bibit unggul. Kata dia, suatu saat pemerintah ingin mereklamasi pasca tambang, bisa dengan bibit meranti, kapur, sengkuang yang dapat diperoleh dari TNK.

Pembukaan Lahan

Baru saja sekira 10 menit menelusuri Sungai Sanggatta, dari dermaga utama kawasan Prevab kearah Selatan. Tampak jelas jejak pembukaan lahan, puluhan pohon besar pun telah tumbang tak beraturan.

Lokasinya yang tak jauh dari pusat kota disebut sangat menarik bagi perambah. Saat ini kawasan TNK termasuk Prevab, tak lepas dari ancaman perambahan. Klaim penguasaan lahan, hingga permintaan izin penggarapan dari sejumlah kelompok menjadi ancaman tersendiri.

“Di lokasi ini kami sempat sita dua unit senso, pelaku juga sudah kami data. Perambahan ini baru secuil, masih banyak lagi di lokasi terpisah,” ujar Lutvi Hargubi, Kepala Resort Polhut Sangatta.

Jelasnya, modusnya 40 ribu hektare lahan TNK yang terbentang dari kawasan Prevab hingga Rantau Pulung, diklaim. Atas dasar klaim sepihak itu, sebagian lahan lantas dihibahkan kepada beberapa gabungan kelompok tani (Gapoktan) untuk digarap.

Lahan TNK Dirambah (Foto/Yudi)

Ironisnya, beberapa bulan terakhir intensitas perambahan hutan di kawasan TNK semakin menghawatirkan.

Ia mencatat di sekitar area dan perbatasan Privab saja, sudah ada sekitar 10 Ha hutan yang dirambah bahkan dirusak.

Di sisi lain, Lutvi mengakui secara regulasi tugas dan fungsi Polisi Kehutanan (Polhut) telah dikurangi. Karena untuk penegakan hukum itu telah diambil alih oleh Ditjen GAKKUM.

“Jadi kami hanya melaporkan dan tindakan fisik ada di pihak GAKKUM. Saat ini, kami terus berupaya agar tidak terlalu dieksploitasi kawasan hutan ini,” terangnya.

Sementara, Rosliati, Pj Kepala Desa Persiapan Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan menyampaikan keberadaan TNK sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Terlebih saat ini ada program rehab DAS yang dilakukan TNK, sehingga warga dapat terlibat dalam menjaga lingkungannya.

Rosliati menyatakan pihaknya turut mengecam tindakan klaim lahan yang dilakukan sekelompok warga.

Lahan TNK Dirambah (Foto/Yudi)

“Saya lihat sendiri, dengar langsung apa yang mereka lakukan. Perambahan ini sudah keterlaluan, saya menginginkan di sini ada tindakan tegas,” ujarnya.

Lebih jauh, Kades wanita itu berharap kelestarian ekosistem di TNK dapat terus terjaga. Karena salah satu paru-paru Dunia ada di Kutai Timur, yakni TNK lengkap dengan segala kekayaan flora dan faunanya yang harus terus dijaga.

“Harapan kami besar sekali, hutan kita ini dapat terus dijaga. Banjir semakin parah, penghijauan hutan jelas dapat meminimalisir dampaknya. Selain itu, karena ini wisatawan mancanegara mau datang,” ucapnya.

Sejarawan Angkat Bicara Soal Klaim Lahan TNK

Sementara, Muhammad Sarip, penerima sertifkat kompetensi bidang sejarah Kemdikbud-BNSP asal Kota Samarinda menegaskan lahan di TNK sejak 1936 Sultan Kutai Aji Muhammad Parikesit menetapkan Suaka Margasatwa Kutai untuk dikelola oleh pemerintah Hindia Belanda.

Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Sultan Kutai tertanggal 10 Juli 1936 yang disahkan Residen Borneo Timur dan Selatan di Banjarmasin.

Setelah proses politik internasional Konferensi Meja Bundar yang melegitimasi kedaulatan Negara Indonesia sejak 1949, maka pengelolaan aset Hindia Belanda, termasuk Suaka Margasatwa Kutai, beralih ke pemerintah Indonesia.

Indahnya Hutan TNK Terancam Perambahan (Foto/Yudi)

“Tahun 1995 Menteri Kehutanan meningkatkan statusnya menjadi Taman Nasional,” ujarnya.

Untuk itu, terkait adanya individu atau kelompok tertentu yang mengatasnamakan entitas adat dengan label Kutai, lalu mengklaim sebagai pemilik atau pendaku hak kelola ribuan hektar lahan di TNK, kemudian menggarap dan mengambil hasil hutannya untuk motif ekonomi pribadi, tidak dapat dibenarkan.

Menurutnya, hal ini sebenarnya justru bertentangan dengan adat Kutai itu sendiri.

“Jika memang mengaku mengusung adat Kutai, maka mereka wajib turut melestarikan alam di TNK. Mestinya mereka mendukung konservasi yang dilakukan pemerintah,” imbaunya.

M. Sarip menegaskan, menebang pohon di TNK untuk keuntungan ekonomi kelompok terbatas atau memburu satwa yang ada di TNK, itu sama dengan melanggar warisan titah Sultan Kutai yang pada masa silam ingin menjaga kelestarian flora dan fauna unik yang hidup di lahan tersebut. (Yud/DT).

Print Friendly, PDF & Email
Tags: kabar daerahOrangutan
ShareTweet
Previous Post

Agus Haris: Jangan Gegabah Menetapkan Laut Sebagai Kawasan Konservasi

Next Post

Legislator Desak Pemkot Update Data Warga Miskin

Related Posts

4 Jurnalis Jadi Korban Represi Saat Aksi 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana
WARTA

4 Jurnalis Jadi Korban Represi Saat Aksi 214, Koalisi Pers Kaltim: Halangi Kerja Pers Bisa Dipidana

​Sekjen PRIMA, Gautama: Menahan Harga BBM Adalah Nafas Bagi Rakyat Kecil
KOLOM

​Sekjen PRIMA, Gautama: Menahan Harga BBM Adalah Nafas Bagi Rakyat Kecil

Udin Rizky, PRIMA Kaltim
WARTA

Polemik PBI BPJS di Samarinda, PRIMA: Stop Pansos, Pemprov & Pemkot Harus Bersinergi

Halalbihalal Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung Meriah, Diawali Tradisi Manortor
KOLOM

Halalbihalal Persatuan Batak Muslim Satataring Lampung Meriah, Diawali Tradisi Manortor

5 Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan dengan Modal HP dan Internet
GAYA HIDUP

5 Cara Mendapatkan Penghasilan Tambahan dengan Modal HP dan Internet

KADIN Sumsel Bentuk Posko SAPA MBG, Wadah Aspirasi Mitra Program Makan Bergizi Gratis
KOLOM

KADIN Sumsel Bentuk Posko SAPA MBG, Wadah Aspirasi Mitra Program Makan Bergizi Gratis

Next Post
PDIP Bontang Bentuk Satgas Covid-19, Tak Tertib Kader Bisa Dinonjobkan

Legislator Desak Pemkot Update Data Warga Miskin

Discussion about this post

Follow Us

dialektis-logo-1
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN PEMBERITAAN RAMAH ANAK

© 2022 DIALEKTIS.CO – Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO

© 2021 DIALEKTIS.CO - Managed by Aydan Putra. All rights reserved.

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

cuaca 228000691

cuaca 228000692

cuaca 228000693

cuaca 228000694

cuaca 228000695

cuaca 228000696

cuaca 228000697

cuaca 228000698

cuaca 228000699

cuaca 228000700

cuaca 228000701

cuaca 228000702

cuaca 228000703

cuaca 228000704

cuaca 228000705

cuaca 228000706

cuaca 228000707

cuaca 228000708

cuaca 228000709

cuaca 228000710

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

post 238000601

post 238000602

post 238000603

post 238000604

post 238000605

post 238000606

post 238000607

post 238000608

post 238000609

post 238000610

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

berita 428011481

berita 428011482

berita 428011483

berita 428011484

berita 428011485

berita 428011486

berita 428011487

berita 428011488

berita 428011489

berita 428011490

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

kajian 638000056

kajian 638000057

kajian 638000058

kajian 638000059

kajian 638000060

kajian 638000061

kajian 638000062

kajian 638000063

kajian 638000064

kajian 638000065

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

article 788000061

article 788000062

article 788000063

article 788000064

article 788000065

article 788000067

article 788000068

article 788000069

article 788000070

article 788000071

article 788000072

article 788000073

article 788000074

article 788000075

article 788000076

news-1701