Dialektis.co,l – Pemerintah Kota Bontang akan melakukan intervensi khusus di Kelurahan Loktuan setelah wilayah tersebut mencatat angka kekerasan terhadap perempuan dan anak tertinggi sepanjang 2025.
Berdasarkan data yang dipaparkan, dalam kegiatan Advokasi dan Penguatan Kelembagaan Kelurahan Ramah Perempuan Peduli dan Layak Anak, Loktuan mencatat total 19 kasus, terdiri dari 18 kasus kekerasan terhadap anak dan satu kasus kekerasan terhadap perempuan.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, meminta seluruh pihak memberi perhatian serius terhadap tingginya angka tersebut.
Menurutnya, intervensi perlu segera dilakukan agar korban mendapatkan perlindungan dan kasus serupa tidak terus berulang.
“Kelurahan Loktuan harus diintervensi karena angkanya tinggi. Kasian loh kalau kasus ini tidak ditangani,” ungkapnya, Rabu (26/5/2026).
Selain Loktuan, jumlah kasus tertinggi kedua berada di Kelurahan Bontang Baru dan Berbas Tengah dengan total masing-masing 14 kasus.
Di Kelurahan Bontang Baru, terdapat 9 kasus kekerasan terhadap anak dan 5 kasus kekerasan terhadap perempuan.
Sedangkan di Kelurahan Berbas Tengah, seluruh kasus didominasi kekerasan terhadap anak dengan total 14 kasus.
Sementara itu, angka kasus terendah berada di Kelurahan Satimpo dan Kanaan.
Kelurahan Satimpo, mencatat 2 kasus kekerasan terhadap anak tanpa kasus kekerasan terhadap perempuan.
Sedangkan Kelurahan Kanaan, mencatat masing-masing 1 kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Neni menilai, faktor kemiskinan menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus kekerasan di masyarakat.
“Kemiskinan jadi faktor pendukung angkanya naik. Ini mengkhawatirkan yah,” pungkasnya.
Saat ini, dua kelurahan telah ditetapkan sebagai KRPPA (Kampung Ramah Perempuan dan Pedulia Anak), yakni Kelurahan Satimpo dan Bontang Baru. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.









Discussion about this post