Dialektis.co – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bontang kembali mengalami peningkatan setelah sempat menunjukkan tren penurunan selama lima bulan pertama 2026.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang mencatat kenaikan mulai terjadi pada Juni dan masih berlanjut pada Juli.
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan sepanjang Januari hingga Mei kasus ISPA cenderung mengalami penurunan.
Namun, kondisi tersebut berubah pada Juni dengan peningkatan kasus sebesar 17 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Mulai bulan Juni tercatat adanya lonjakan kasus ISPA sebesar 17 persen dibandingkan Mei dan tren peningkatan masih terpantau hingga Juli,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data pelaporan seluruh puskesmas melalui aplikasi SatuSehaVNAR ISPA, pada Januari tercatat 2.493 kasus.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 2.105 kasus pada Februari, 1.872 kasus pada Maret, dan 1.845 kasus pada April.
Penurunan kembali terjadi pada Mei dengan jumlah 1.587 kasus. Namun pada Juni kasus kembali meningkat menjadi 1.857 kasus atau bertambah 270 kasus dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan tersebut belum berhenti pada Juni. Pada Juli, Dinkes mencatat sebanyak 1.880 kasus ISPA atau naik 23 kasus dibandingkan Juni.
Jika dibandingkan dengan titik terendah pada Mei, jumlah kasus pada Juli meningkat sekitar 18,5 persen.
Kondisi ini menjadi perhatian Dinkes di tengah situasi karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Meski demikian, Toetoek menegaskan peningkatan kasus ISPA tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan kejadian karhutla regional.
Menurutnya, gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan cuaca, debu jalanan hingga penularan virus di masyarakat.
“Data pelaporan saat ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung antara kejadian karhutla regional dengan lonjakan kasus ISPA di Bontang,” jelasnya.
Dinkes tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia. Dari data Januari-Juli, kasus pada kelompok dewasa menjadi yang paling dominan.
Sementara balita juga mencatat angka cukup tinggi dan berada pada rentang 378 hingga 583 kasus per bulan.
Toetoek mengingatkan masyarakat segera memeriksakan diri apabila gejala gangguan pernapasan semakin berat. Terlebih jika muncul sesak napas, napas sangat cepat, nyeri dada atau kondisi tubuh melemah secara drastis. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 Kemudian join.








Discussion about this post