Dialektis.co, Bontang – SMP Negeri 9 Bontang terus memperkuat sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah. Upaya tersebut membuahkan hasil setelah sekolah ini berhasil meraih penghargaan Lembaga Perlindungan Khusus Ramah Anak (LPKRA) tingkat Madya dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI pada April 2026 lalu.
Kepala SMPN 9 Bontang, Lilyn Indriyawati, mengatakan penghargaan tersebut diraih melalui proses penilaian ketat yang mencakup kebijakan sekolah, sarana prasarana, hingga pola komunikasi dan penanganan peserta didik berbasis pemenuhan hak anak.
“Ini menjadi bukti komitmen sekolah dalam menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Lilyn, salah satu fokus utama yang diterapkan di SMPN 9 Bontang ialah membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa. Program tersebut juga sejalan dengan kebijakan sekolah ramah anak yang didorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang.
“Budaya-budaya dan iklim keamanan sekolah terus kami terapkan. Program sekolah ramah anak dan LPKRA ini saling berkaitan,” katanya.
Dalam penerapannya, sekolah membangun sistem penanganan siswa secara berjenjang dan melibatkan banyak pihak. Setiap persoalan siswa terlebih dahulu dipantau guru mata pelajaran, kemudian diteruskan kepada wali kelas dan guru bimbingan konseling (BK), hingga bidang kesiswaan apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.
Guru BK SMPN 9 Bontang menjelaskan, pola tersebut menjadi salah satu poin penting dalam penilaian LPKRA karena sekolah dinilai memiliki mekanisme penanganan kasus yang jelas dan berkesinambungan.
“Jadi tidak langsung semua dibebankan ke guru BK. Ada kerja sama antara guru mapel, wali kelas, guru BK, sampai kesiswaan,” jelasnya.
Selain itu, SMPN 9 Bontang juga mulai menyiapkan layanan pendidikan inklusi. Meski saat ini belum memiliki peserta didik berkebutuhan khusus, sekolah telah memiliki dua guru yang mendapat pembekalan khusus dari Disdikbud Bontang terkait pendidikan inklusif.
“Guru khusus memang belum ada, tetapi sudah ada dua guru yang mendapat pelatihan sebagai bekal penanganan anak inklusi,” ujar Lilyn.
Ia menambahkan, konsep pendidikan inklusi nantinya tetap mengedepankan pembelajaran bersama antara siswa reguler dan anak berkebutuhan khusus, dengan pendampingan tambahan pada kegiatan pembiasaan dan pengembangan kemandirian.
Penghargaan LPKRA yang diterima SMPN 9 Bontang juga menjadi pencapaian perdana bagi sekolah tersebut. Dari seluruh sekolah di Kalimantan Timur, hanya ada dua sekolah yang menerima penghargaan serupa tahun ini dan keduanya berasal dari Kota Bontang. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.







Discussion about this post