Dialektis.co – Kepala SDN 002 Bontang Barat, Suhartini menyatakan pihaknya terus berupaya memperkuat pendidikan karakter dan pembinaan keagamaan siswa melalui program rutin bertajuk “Sabtu Berbagi”.
Kata dia, progam ini disusun dengan menggandeng kegiatan dari Pramuka, Imtak, Senam Sehat, hingga gerakan peduli lingkungan. Sehingga selalu memiliki tema yang berbeda.
“Sabtu minggu pertama itu Pramuka. Anak-anak tidak hanya belajar baris-berbaris, tapi juga keterampilan seperti tali-temali, mencintai tanaman, sampai kegiatan bersih-bersih. Semua menggunakan program Pramuka sesuai SKU dan SKK,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Pada pekan kedua, sekolah menggelar Sabtu Imtak yang difokuskan pada pembinaan keagamaan seluruh siswa sesuai agama masing-masing. Kegiatan tersebut melibatkan guru agama hingga tokoh keagamaan dari luar sekolah.
“Karena di sini ada Islam, Kristen, dan Katolik, semua kami fasilitasi ruangannya masing-masing. Untuk Islam bisa menghadirkan ustaz, sementara Kristen dan Katolik juga ada pendalaman kitab bersama guru-guru yang memang aktif di gereja,” katanya.
Tak hanya itu, pekan ketiga diisi program Sabtu Sehat dengan kegiatan senam bersama dan olahraga. Sementara pekan keempat terdapat program Gesit atau Gerakan Sampahku Tanggung Jawabku yang mengajak siswa menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Menurut Suhartini, program-program tersebut lahir sebagai upaya sekolah menghadirkan kegiatan pembentukan karakter di luar pembelajaran efektif. Sebab, sekolah dasar masih menjalankan proses belajar penuh pada hari Jumat sehingga kegiatan pembiasaan dipusatkan setiap Sabtu.
“Resepnya itu berbagi-bagi kegiatan supaya anak-anak tidak bosan, tapi tetap ada pembentukan karakter, kesehatan, dan keagamaan,” jelasnya.
Dalam bidang keagamaan, sekolah juga memiliki program pembelajaran mengaji bagi siswa muslim dengan mendatangkan guru ngaji dari luar sekolah. Program itu bahkan dibiayai secara mandiri oleh pihak sekolah.
“Untuk bayar guru ngajinya masih mandiri. Guru agama dan saya menyisihkan uang untuk itu. Sudah berjalan sekitar dua tahunan,” ungkapnya.
Ia menyebut, program tersebut mulai menunjukkan dampak positif, terutama bagi kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa muslim maupun pendalaman doa dan kitab suci bagi siswa Kristen dan Katolik.
“Anak-anak yang tadinya masih kurang dalam baca tulis Al-Qur’an sekarang sudah mulai berkembang. Kalau yang Kristen juga ada pendalaman Alkitab dan doa-doa sehari-hari,” tuturnya.
Selain program Sabtu Berbagi, sekolah juga menerapkan literasi dan doa bersama selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Kegiatan itu dilakukan bergantian sesuai jadwal dan melibatkan kerja sama guru agama dengan wali kelas untuk seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post