Dialektis.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga 12,5 persen pada 2026. Target ini dinilai realistis meski saat ini angka stunting masih berada di posisi 15,69 persen berdasarkan hasil operasi timbang terbaru.
Kepala Dinkes Bontang, Bahtiar Mabe, mengatakan pihaknya optimistis target tersebut bisa tercapai melalui penguatan kolaborasi lintas sektor. Terlebih, tren penurunan stunting di Bontang terus menunjukkan progres positif setiap tahun.
“Target kita 12,5 persen. Kalau semua pihak bergerak bersama, bukan tidak mungkin kita bisa capai, bahkan lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, strategi utama yang kini dijalankan bukan hanya menangani anak yang sudah mengalami stunting, tetapi lebih menitikberatkan pada pencegahan kasus baru. Pendekatan ini dilakukan dengan mengawal kelompok rentan sejak hulu, yakni remaja putri, calon pengantin, hingga ibu hamil.
Intervensi dini seperti pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri serta pemenuhan gizi bagi ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) menjadi fokus utama. Langkah ini diyakini efektif untuk mencegah bayi lahir dalam kondisi stunting.
“Yang paling penting itu jangan ada stunting baru. Kita kawal dari awal, dari remaja putri sampai ibu hamil,” tambahnya.
Selain itu, Dinkes juga terus menggencarkan pelaksanaan operasi timbang untuk memastikan data pertumbuhan balita lebih akurat. Dari sekitar 10 ribu balita yang menjadi sasaran, pemantauan dilakukan secara rutin setiap bulan melalui posyandu.
Bahtiar juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk perusahaan melalui program CSR dan media massa, untuk turut ambil bagian dalam edukasi pencegahan stunting. Ia menekankan pentingnya kesadaran orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak secara berkala.
“Peran orang tua sangat penting. Rutin ke posyandu itu kunci agar pertumbuhan anak bisa terpantau,” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan stunting memiliki batas waktu yang krusial, yakni sebelum anak berusia lima tahun. Karena itu, upaya pencegahan dan intervensi harus dilakukan secara maksimal sejak dini.
“Kalau kita bisa tekan kasus baru dan tangani yang ada, target 12,5 persen bahkan menuju nol persen itu sangat mungkin,” pungkasnya. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post