Dialektis.co – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bontang terus memperkuat peran organisasi profesi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan perpustakaan sekolah menuju akreditasi nasional, yang juga menjadi ruang konsolidasi antara organisasi guru dan pemerintah daerah dalam menguatkan budaya literasi di sekolah.
Ketua PGRI Bontang, Safaruddin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, menegaskan kegiatan itu merupakan bentuk nyata kontribusi organisasi dalam menopang program strategis daerah.
Menurutnya, penguatan perpustakaan tidak bisa dilepaskan dari peran aktif guru sebagai motor penggerak di lingkungan pendidikan.
Ia menjelaskan, keberlanjutan program peningkatan kapasitas seperti bimtek sangat bergantung pada komitmen kolektif seluruh anggota, terutama dalam memenuhi kewajiban kontribusi organisasi.
Hal tersebut, menurutnya, bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk membiayai berbagai agenda peningkatan mutu pendidikan.
Pun ia mengingatkan kepala satuan pendidikan agar tidak mengabaikan kewajiban tersebut.
Sikap abai, kata dia, berpotensi menghambat pelaksanaan program pengembangan yang telah dirancang.
“Saya akan memberikan teguran kepada kepala sekolah yang masih menghambat kewajiban ini. Kalau ada kecurigaan, silakan diaudit. Saya jamin pengelolaannya amanah dan saya awasi langsung,” tegasnya.
Ia menambahkan, transparansi menjadi prinsip utama dalam pengelolaan keuangan organisasi.
Dengan keterbukaan, anggota dapat melihat langsung manfaat dari kontribusi yang diberikan, salah satunya melalui kegiatan peningkatan kapasitas seperti bimtek yang tengah berlangsung.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai pusat literasi yang hidup dan aktif.
Menurutnya, fasilitas tersebut tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan harus menjadi jantung proses pembelajaran di sekolah.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menyoroti masih adanya keraguan sebagian guru dalam memenuhi kewajiban kontribusi organisasi.
Ia menilai, kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor kepercayaan dan kekhawatiran terhadap pengelolaan dana, bukan semata persoalan kemampuan.
Menurutnya, hal ini perlu diluruskan melalui komunikasi yang terbuka dan penguatan akuntabilitas organisasi.
Ia memastikan bahwa seluruh kontribusi yang dihimpun melalui PGRI digunakan untuk mendukung kemajuan dan kesejahteraan guru, termasuk dalam program peningkatan kapasitas, perlindungan profesi, hingga penguatan kompetensi.
“Bukan karena tidak mau, tapi ada rasa khawatir dan belum sepenuhnya percaya. Saya menjamin iuran itu dikelola dengan baik dan digunakan untuk kemajuan guru. Ini harus dipahami bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, penting bagi organisasi profesi untuk terus membangun kepercayaan melalui transparansi dan pelibatan anggota dalam setiap program.
Dengan demikian, dukungan guru terhadap organisasi akan semakin kuat dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan di daerah.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi profesi menjadi kunci dalam mendorong transformasi pendidikan, termasuk melalui penguatan perpustakaan sekolah sebagai pusat literasi yang adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg kemudian join.








Discussion about this post