Dialektis.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang memberi apresiasi terhadap upaya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bontang dalam menghadirkan program pendidikan kesetaraan bagi warga binaan melalui sekolah paket A, B, dan C.
Program tersebut dilaksanakan oleh Lapas bekerja sama dengan PKBM Melati, sementara Disdikbud berperan dalam koordinasi, khususnya terkait pendataan warga binaan yang putus sekolah serta memastikan akses pendidikan tetap terbuka.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara yang tidak boleh hilang, termasuk bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana.
“Pendidikan itu adalah hak dasar. Sekalipun identitasnya dicabut dalam konteks hukum, hak mendapatkan pendidikan tidak boleh dicabut,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menilai langkah Lapas menghadirkan program sekolah paket merupakan bentuk nyata pemenuhan kebutuhan dasar warga binaan, tidak hanya dari sisi keterampilan, tetapi juga kualifikasi pendidikan.
Menurutnya, pendekatan pembinaan seperti ini patut diapresiasi karena mampu menjawab kebutuhan jangka panjang warga binaan saat kembali ke masyarakat.
“Ini luar biasa, karena tidak hanya membekali mereka dengan keterampilan, tetapi juga kualifikasi pendidikan. Jadi ketika mereka bebas, mereka tidak tertinggal,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Lapas Bontang selama ini tetap melakukan koordinasi dengan pihak Disdikbud, termasuk dalam hal teknis pendukung pendidikan seperti pelaksanaan ujian.
Ia juga menegaskan bahwa yang terpenting dalam program ini adalah akses pendidikan tetap tersedia, siapa pun penyelenggaranya.
“Intinya pendidikan itu harus tetap berjalan. Selama itu untuk memenuhi hak belajar, tentu kami mendukung,” jelasnya.
Program ini dinilai menjadi solusi bagi warga binaan yang sebelumnya putus sekolah, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan memperbaiki masa depan melalui jalur pendidikan.
Dengan adanya pendidikan kesetaraan, warga binaan diharapkan tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga dokumen pendidikan yang dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan dunia kerja.
“Ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka sudah punya bekal. Itu yang penting,” lamjut dia.
Ia pun menutup dengan menegaskan bahwa upaya Lapas dalam menghadirkan pendidikan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang inklusif.
“Ini patut diapresiasi karena tidak semua tempat melakukan hal seperti ini,” pungkasnya. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post