Dialektis.co
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home RAGAM KOLOM

IKN, Optimisme di Tengah Keraguan

Opini

Redaksi by Redaksi
September 14, 2026
IKN, Optimisme di Tengah Keraguan

Herman YB Tukan

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Herman YB Tukan, S, Sos, M.Si
(Pranata Humas Ahli Muda Penyetaraan Diskominfo Kota Samarinda)

SABTU, 12 September 2026 siang, saya mendapat kesempatan ikut bersama rombongan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dari berbagai daerah di Indonesia mengunjungi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Saya bukan pengurus ISKA. Bukan pula delegasi Munas XVII ISKA. Selama ini saya juga tidak terlalu aktif mengikuti dinamika organisasi tersebut, baik di tingkat Kota Samarinda maupun Kalimantan Timur.

Kehadiran saya lebih karena diminta membantu publikasi kegiatan nasional itu.
Namun, ketika mengetahui rombongan akan berkunjung ke IKN, saya memilih ikut.

Bagi saya, ini kesempatan untuk melihat kembali dari dekat bagaimana perkembangan pembangunan IKN. Sekaligus menjawab rasa penasaran setelah kunjungan pertama bersama istri dan kedua putri saya pada 28 Januari 2025 lalu.

Jarak waktu lebih dari setahun ternyata cukup untuk memperlihatkan perubahan. Tiga bus bergerak dari Hotel Novotel Balikpapan sekitar pukul 13.00 WITA.

Saya berada di Bus A bersama delegasi dari sejumlah daerah di Kalimantan. Dua bus lainnya membawa peserta dari Pulau Jawa dan daerah lainnya.

Sekitar dua jam perjalanan, kami tiba di kawasan IKN. Kesan pertama saya sederhana. Ada banyak perubahan.
Jalan yang kami lalui terasa lebih baik.

Arus kendaraan lebih lancar. Gedung-gedung pemerintahan semakin banyak berdiri. Lanskap dan tanaman semakin tertata. Fasilitas penunjang juga mulai menunjukkan wajah sebuah pusat pemerintahan baru.

Kami tidak hanya melintas di jalan utama. Tiga bus yang membawa rombongan juga masuk dan berkeliling ke sejumlah kawasan strategis.

Kami melihat Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, gedung-gedung kementerian, fasilitas kesehatan, hotel, hingga hunian bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Hunian ASN itu dibangun dengan konsep apartemen. Fasilitasnya pun sudah disiapkan.

“Pegawai yang mau masuk tinggal bawa koper saja. Karena sudah siap semua,” kata Deputi Pembangunan IKN, Thomas Umbu Pati Tena Bolodadi, saat menyambut sekaligus mendampingi rombongan.

Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi saya, ini menggambarkan satu hal penting, bahwa pembangunan IKN bukan lagi sekadar gambar rancangan di atas kertas.

Ada bangunan. Ada jalan. Ada fasilitas. Ada kehidupan yang sedang disiapkan.
Namun, bagian yang paling menarik perhatian saya justru bukan gedung pemerintahan. Melainkan rumah-rumah ibadah.

Di satu kawasan, berbagai rumah ibadah agama di Indonesia dirancang berdampingan. Masjid telah berdiri. Gereja Katolik juga telah terbangun.

Di sekitarnya tersedia lahan untuk Gereja Protestan, Pura, Wihara, dan Kelenteng.
Di tengahnya terdapat Plaza Kerukunan. Saya melihatnya bukan hanya sebagai bagian dari desain kawasan.

Lebih dari itu, ia seperti pesan yang ingin disampaikan IKN kepada Indonesia, bahwa perbedaan tidak harus menjadi jarak. Perbedaan justru dapat hidup berdampingan dalam satu ruang.

Di tengah berbagai persoalan kebangsaan hari ini, simbol semacam itu menjadi penting. Indonesia tidak dibangun hanya dengan beton, jalan, gedung, dan infrastruktur.

Indonesia juga dibangun dengan kepercayaan, toleransi, persaudaraan, dan kemampuan hidup bersama.

Pembangunan IKN tidak semata-mata soal memindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Ada gagasan yang lebih besar di dalamnya. Tentang bagaimana Indonesia ingin menata masa depannya.

Kemajuan pembangunan juga terlihat dari infrastruktur konektivitas. Jalan tol menuju IKN terus dikebut. Masih ada satu segmen yang menghadapi persoalan sosial. Namun penyelesaiannya disebut mulai menemukan titik terang.

Jika seluruh ruas tersambung, waktu tempuh Balikpapan–IKN diperkirakan jauh lebih singkat. Dari perjalanan sekitar dua jam saat ini, nantinya bisa ditempuh kurang dari satu jam. Bahkan diperkirakan hanya sekitar 50 menit.

IKN juga telah memiliki bandara dengan landasan pacu yang memadai. Kehadiran infrastruktur tersebut semakin memperkuat konektivitas kawasan dan menunjukkan bahwa IKN sedang dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan baru.

Tentu, pembangunan sebesar ini tidak mungkin selesai dalam sekejap. Masih ada pekerjaan rumah. Masih ada persoalan yang harus diselesaikan. Masih ada kritik yang perlu didengar. Dan masih ada keraguan yang wajar muncul di tengah masyarakat.

Tetapi setelah melihatnya secara langsung, keraguan perlahan bergeser menjadi keyakinan. Yang jelas, bukan berarti semua persoalan telah selesai. Bukan pula berarti pembangunan IKN harus dipandang tanpa kritik.

Justru sebaliknya. IKN harus terus diawasi, dikritisi, dan dipastikan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat serta bangsa Indonesia. Namun, kritik seharusnya lahir dari fakta.

Optimisme pun harus tumbuh dari kenyataan. Dan kenyataan yang terlihat hari itu adalah sebuah kawasan yang terus bergerak.

IKN bukan lagi sekadar konsep. Bukan hanya maket. Bukan pula sekadar janji pembangunan. Ia sedang tumbuh. Pelan, bertahap, dengan segala tantangan dan kekurangannya. Tetapi itu nyata.

Sebagai warga Kalimantan Timur, melihat perkembangan itu tentu menghadirkan perasaan tersendiri. Ada kebanggaan. Ada harapan. Tetapi sekaligus ada tanggung jawab besar agar kehadiran IKN benar-benar membawa perubahan yang adil bagi masyarakat sekitar.

Lebih jauh dari itu, IKN harus mampu menjadi simbol Indonesia yang maju, modern, inklusif, dan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. IKN, sebuah optimisme tentang masa depan Indonesia. (*/ht).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.

Print Friendly, PDF & Email
Tags: IKN NusantaraOpini
ShareTweet
Previous Post

Pria 69 Tahun Ancam dengan Badik Pemilik Toko Sembako di Bontang, Ambil Uang Rp1,5 juta

Related Posts

Pria 69 Tahun Ancam dengan Badik Pemilik Toko Sembako di Bontang, Ambil Uang Rp1,5 juta
WARTA

Pria 69 Tahun Ancam dengan Badik Pemilik Toko Sembako di Bontang, Ambil Uang Rp1,5 juta

IKN Terus Berlanjut, Thomas: Jangan Dibawa ke Ranah Politik
WARTA

IKN Terus Berlanjut, Thomas: Jangan Dibawa ke Ranah Politik

Gelar Gathering Bersama Media, Badak LNG ajak Insan Pers Kota Bontang Main Bowling
OLAHRAGA

Gelar Gathering Bersama Media, Badak LNG ajak Insan Pers Kota Bontang Main Bowling

ISKA Siapkan Kepemimpinan Baru, Keadilan Jadi Agenda Utama
WARTA

ISKA Siapkan Kepemimpinan Baru, Keadilan Jadi Agenda Utama

Sambut HUT TNI, Kodim 0908/Bontang Tanam 1.000 Mangrove untuk Perkuat Ekosistem Pesisir
RAGAM

Sambut HUT TNI, Kodim 0908/Bontang Tanam 1.000 Mangrove untuk Perkuat Ekosistem Pesisir

Jelaskan Arti Desil, BPS Bantah Manipulasi Demi Turunkan Angka Kemiskinan
WARTA

Jelaskan Arti Desil, BPS Bantah Manipulasi Demi Turunkan Angka Kemiskinan

Discussion about this post

Follow Us

DIALEKTIS.CO
  • TENTANG KAMI
  • REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • DISCLAIMER
  • PEDOMAN PEMBERITAAN RAMAH ANAK
© 2022 DIALEKTIS.CO - Managed by Aydan Putra. All rights reserved.
No Result
View All Result
  • HOME
  • WARTA
  • KABAR PARLEMEN
  • EKBIS
  • GAYA HIDUP
  • RAGAM
  • VIDEO

© 2021 DIALEKTIS.CO - Managed by Aydan Putra. All rights reserved.