Dialektis.co, Kalimantan Timur — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Bagi siswa SMA IT Daarul Hikmah Boarding School (DHBS) Bontang, alam menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman berbeda.
Muhammad Wawan Adisaputra, guru DHBS Bontang menyatakan melalui keikutsertaan dalam Nusantara Bird Race, siswa diajak mengenal lebih dekat kehidupan satwa liar di habitat alaminya.

Khususnya beragam jenis burung yang menghuni kawasan Bukit Bangkirai.
“Dengan teropong di tangan dan mata yang jeli mengamati, siswa menyusuri kawasan hutan untuk menemukan berbagai jenis burung,” ujarnya kepada media ini.
Wawan menceritakan, suara kicauan dari balik pepohonan, gerakan kecil di antara dedaunan, hingga bentuk dan warna burung menjadi bagian dari pengalaman pengamatan yang menarik.

Nusantara Bird Race tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar langsung dari alam.
“Mereka belajar mengidentifikasi burung berdasarkan ciri fisik, suara, perilaku, serta habitatnya,” tuturnya.
Setiap temuan menjadi pengalaman baru yang memperkaya pengetahuan sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap kehidupan liar.

Pengalaman tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran Biologi di SMA IT DHBS.
Konsep keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, adaptasi, dan konservasi yang dipelajari di kelas dapat diamati secara langsung di lingkungan alami.
Lebih dari sekadar mengamati burung, kegiatan ini mengajarkan siswa bagaimana menjadi pengamat alam yang bertanggung jawab.
Diperlukan kesabaran, ketelitian, kerja sama, serta kepedulian agar aktivitas pengamatan tidak mengganggu kehidupan satwa yang ditemui.

Keikutsertaan SMA IT DHBS dalam Nusantara Bird Race juga memberikan pengalaman berharga dalam mengenal kekayaan biodiversitas Kalimantan Timur.
Dari balik teropong, siswa melihat bahwa setiap burung memiliki peran dalam ekosistem dan setiap habitat memiliki kehidupan yang patut dijaga.
Dalam kegiatan tersebut, SMA IT DHBS juga berhasil meraih Juara Harapan 1 (beda 2 point dari juara 3), sakit tapi tak berdarah.
Namun, lebih dari hasil perlombaan, pengalaman menjelajah alam dan berinteraksi langsung dengan kehidupan liar menjadi pembelajaran yang tidak mudah ditemukan di dalam kelas.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa alam dapat menjadi guru yang menghadirkan pelajaran melalui pengalaman nyata.
Dari teropong, siswa belajar mengenal burung. Dari rimba, mereka belajar memahami kehidupan. Dan dari pengalaman tersebut, tumbuh kesadaran untuk ikut menjaga keanekaragaman hayati.
Lebih jauh, Wawan menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada tim DH Birding Club: Ghozi, Rakha, Farhan, Kak Hariyadi, dan Kak Muslih, yang telah mendampingi, dan memberikan kontribusi luar biasa selama kegiatan.

“Dari subuh hingga maghrib, semangat untuk mencari, mengamati, dan mencatat data burung menjadi bagian dari perjuangan yang tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga pengalaman dan cerita yang akan dikenang,” pungkasnya. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.









Discussion about this post