Dialektis.co – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mulai mengambil langkah tegas untuk merespons praktik penahanan ijazah siswa. Khususnya pada lembaga pendidikan swasta.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha menegaskan hal itu sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
“Persoalan ini akan saya suarakan di forum resmi, bersama kepala sekolah. Agar dapat dibahas secara terbuka dan kolektif,” tegasnya saat ditemui wartawan.
Baginya, ijazah bukan sekadar dokumen administratif. Barang berharga bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Praktik ini perlu segera dievaluasi secara menyeluruh.
Kebiasaan lama, tanpa penyesuaian ini akan berpotensi merugikan generasi muda.
Diketahui, penahanan ijazah sendiri bukanlah hal baru. Hampir setiap tahun, isu ini kembali mencuat, terutama saat masa kelulusan siswa.
Umumnya, kebijakan ini diambil sebagai bentuk jaminan atas tunggakan biaya pendidikan yang belum diselesaikan oleh siswa atau orang tua. Abdu Safa menegaskan pendekatan tersebut perlu ditinjau ulang.
Ia menilai bahwa menjadikan ijazah sebagai alat tekanan administratif justru berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh pihak sekolah.
Di sisi lain, ia juga memahami kondisi sekolah swasta yang harus berjuang secara mandiri dalam memenuhi kebutuhan operasional.
Tanpa dukungan dana yang cukup, sekolah akan kesulitan membayar gaji guru serta menjaga kualitas proses belajar mengajar.
“Tapi ini nanti juga akan saya bahas itu kalau ada pertemuan kepala-kepala sekolah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tanpa ijazah, siswa akan kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Selain itu, mereka juga tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi dalam dunia kerja yang umumnya mensyaratkan dokumen kelulusan.
Sebagai langkah awal, Disdikbud mendorong adanya solusi alternatif yang tidak merugikan siswa, salah satunya dengan memberikan salinan ijazah agar dapat digunakan sementara waktu.
“Kasihan itu anak-anak generasi kita kalau kita gituin. Di satu sisi saya paham bagaimana teman-teman di yayasan harus menggaji guru, memang ini situasi yang dilematis,” tutupnya. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post