Dialektis.co – MF (18) seorang santri di pondok pesantren wilayah Bontang Selatan mengaku jadi korban pengeroyokan senior mantan santri. Peristiwa yang menyebabkan luka serius di area mata itu terjadi pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.00 WITA dini hari.
Roney Riantobi, selaku kerabat korban berharap kasus ini mendapat perhatian serius dari polisi dan instansi terkait. Terlebih, korban tidak mendapat bantuan medis yang layak dengan alasan kasus pengeroyokan tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
Kata Roney, insiden bermula saat korban menyampaikan informasi kepada terduga pelaku berinisial MA dan terjadi ketersinggungan dan salah pahaman.
“Korban hanya menyampaikan informasi. Tapi setelah MA mencoba mengonfirmasi, informasi itu dianggap tidak benar. Dari situ emosi pelaku memuncak,” ujarnya.
MA kemudian diduga merencanakan penganiayaan dengan cara berpura-pura ingin menginap di kamar korban bersama dua orang temannya. Korban yang tidak menaruh curiga akhirnya menerima kedatangan mereka.
Namun saat di kamar, situasi berubah. Korban langsung diinterogasi dan dikeroyok. Pukulan diarahkan ke bagian wajah korban hingga menyebabkan luka serius.
“Korban dipukul berulang kali, terutama di wajah. Akibatnya, saluran air mata korban mengalami robekan parah,” ungkapnya.
Setelah puas melakukan pengeroyokan. Para terduga pelaku langsung pergi melarikan diri dari lokasi kejadian.
Mirisnya, saat korban berupaya mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Namun, pihak rumah sakit menyampaikan tindakan medis tidak dapat dilakukan karena kasus pengeroyokan tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.









Discussion about this post