Dialektis.co – Pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning mulai dipandang sebagai arah baru dalam penguatan pendidikan nonformal di Indonesia.
Hal ini mengemuka dari pengalaman Hairul Saleh, Pamong Belajar SPNF SKB Kota Bontang, yang mengikuti program pengembangan kapasitas pendidik di Tiangong University Februari 2026 lalu.
Menurut dia, konsep deep learning tidak lagi menempatkan peserta didik sebagai penerima informasi semata.
Sebaliknya, proses belajar diarahkan agar mereka mampu memahami secara utuh, mengaitkan pengetahuan dengan situasi nyata, serta menghasilkan solusi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Hairul Saleh bilang, pembelajaran tidak cukup berhenti pada aspek kognitif. Peserta didik harus dilatih untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis. Komunikasi, kolaborasi, hingga kreativitas yang terintegrasi dalam setiap proses belajar.
“Pendekatan ini membuat peserta didik tidak hanya tahu. Tetapi juga memahami dan mampu menerapkan ilmunya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).
Baca juga: Cerita Hairul Saleh, Perjalanan Plt Kepala SKB Bontang ke Tianjin China
Dalam praktiknya, deep learning diwujudkan melalui metode pembelajaran berbasis pengalaman.
Peserta didik didorong untuk terlibat aktif dalam diskusi, proyek, hingga pemecahan masalah yang dekat dengan lingkungan mereka.
Kata dia, dengan cara ini. Proses belajar menjadi lebih kontekstual dan bermakna.
Lebih lanjit, Plt SKB Bontang ini juga menilai, pendekatan tersebut sangat relevan diterapkan di pendidikan nonformal yang memiliki karakter fleksibel.
Sistem yang tidak kaku justru membuka ruang bagi penerapan metode belajar yang lebih adaptif dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam implementasinya. Salah satunya adalah paradigma sebagian peserta didik yang masih memandang pendidikan sebatas formalitas untuk mendapatkan ijazah.
Kondisi ini dinilai dapat menghambat proses pembelajaran yang seharusnya berorientasi pada pengembangan kapasitas diri.
Untuk itu, ia mendorong agar penguatan deep learning dimulai dari perencanaan pembelajaran. Soft skills perlu diintegrasikan secara sistematis dalam kurikulum, sehingga menjadi bagian utama, bukan sekadar pelengkap.
Selain itu, kolaborasi dengan dunia usaha dan pelaku UMKM juga dinilai penting. Kemitraan ini dapat menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata, sekaligus membuka peluang bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan yang bernilai ekonomi.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital turut menjadi bagian penting dalam mendukung pembelajaran mendalam.
“Jadi, peserta didik dapat diarahkan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana eksplorasi, inovasi, dan komunikasi,” tuturnya.
Dirinya menegaskan, kunci utama dari deep learning bukan terletak pada fasilitas, melainkan pada pola pikir dan desain pembelajaran.
Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan nonformal diyakini mampu melahirkan individu yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan zaman.
“Yang kita bangun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga cara berpikir dan kemampuan bertahan di tengah dinamika,” tutupnya. (*/Adv).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post