Dialektis.co – Kasus penipuan modus “segitiga” yang menyasar pemilik rumah yang tengah melakukan renovasi bangunan di Kota Bontang, ternyata juga menjadi momok menakutkan bagi para pengusaha dan karyawan toko material.
Setelah kisah FTO dan W selaku korban mencuat. Eva, seorang mantan karyawan toko bangunan daerah KM 3 Bontang turut angkat suara.
Ia certikan pengalaman pahitnya, selama bekerja di industri itu sejak 2021 hingga akhir 2025 kemarin. Menegaskan kasu itu nyata terjadi dan berharap tidak terus berulang.
Polanya Sama dan Terus Berulang
Baca juga: Waspada Modus “Segitiga” di Bontang: Barang Sampai Rumah, Tapi Uang Melayang
Usai membaca pemberitaan di media ini sebelumnya. Eva mengaku terkejut karena polanya sangat identik. Menurutnya, modus ini sudah menemui pola dan terus berkembang.
“Wah, ternyata sama banget kisahnya sama yang saya alami waktu kerja di toko material. Intinya modus penipu sekarang banyak banget taktiknya. Tergiur harga miring di sosmed malah kena sial,” ujarnya kepada redaksi.
Eva menduga bahwa pelaku yang beraksi merupakan orang yang sama. Atau kelompok yang menggunakan sekenario penipuan yang sama.
Kasus ini, tidak hanya merugikan pembeli. Tapi juga menghancurkan piring nasi karyawan toko. Eva, menceritakan pengalamannya menangani pesanan senilai Rp15 juta yang berujung sial.
“Aku resign karena dikatain enggak bertanggung jawab. Karena dianggap ‘kasih barang sembarangan’, padahal bos sendiri yang menyuruh layani tiap pesanan,” curhat Eva.
Wanita muda itu mengaku modus penipuan “segitiga” ini sudah lama berlangsung, namun belakangan makin marak. Selama bekerja perasaan curiga selalu muncul, saat masuk pesanan melalui telpon.
Dari pengalamanya, Eva menilai setidaknya ada tiga ciri penipuan ini. Pertama, harga yang tidak masuk akal. Pelaku cendrung memasang harga material jauh lebih murah daripada harga pasar offline, saat memasang promosinya.
Baca juga: Masih Soal Modus “Segitiga” di Bontang, Kali Ini Korban COD Bata Merah Rugi Rp6 Juta
Selanjutnya membolehkan korban untuk memberikan uang muka dengan nominal kecil. Meski nilai belanjanya puluhan juta. Asalkan ada uang yang masuk ke kantong mereka.
“Memaksa transfer. Penipu akan terus mengejar dan memaksa korban segera bayar dengan alasan agar barang cepat dikirim. Kalau sudah begitu, fix penipuan,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini pembeli harus sempatkan diri datang langsung ke toko. Lebih baik belanja langsung, cek barangnya, atau minimal telepon nomor resmi owner-nya.
“Jangan lupa cek nomor telepon penjual di aplikasi seperti GetContact. Kalau sudah ada tag penipu, langsung blokir aja,” tegasnya. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.







Discussion about this post