Dialektis.co – Rekayasa lalu lintas besar-besaran di Kota Samarinda dengan pemasangan portal setinggi 2,45 meter di Jembatan Mahulu mulai dikeluhkan pengemudi angkutan darat. Praktis, hanya kendaraan roda empat ringan (MPV/pribadi) yang diperbolehkan melintas.
Sementara sopir truk muatan harus menuggu waktu batas lintas pada pukul 22.00 Wita hingga pukul 05.00 Wita pagi. Atau harus memutar jauh ke jembatan Mahakam IV.
Ceno (42), salah satu sopir truk levelansir Kaltim menyayangkan keputusan tersebut. Sebab dinilai merugikan, serta menghambat proses bongkar muat barang.
“Permintah ambil kebijakan tanpa mengahdirkan pihak pengusaha organda dan masyarakat,” kesalnya, saat komunikasi dengan media ini, Sabtu (31/1/2026) pagi.
Menurutnya keputusan pemerintah ini nyeleneh. Alih-alih, memperbaiki pengawasan arus lalulintas sungai malah melakukan buka tutup jalur darat.
Ia menilai pengawasan di air lintas batu bara nol. Maka tak heran kejadian kapal ponton nabrak pilar Jembatan Mahulu terus berulang.
“Kapal ponton batu bara yang nabrak. Malah kami yang lintas darat dapat imbasnya,” tuturnya.
Lebih jauh, Ceno hanya berharap segera ada kejelasan sampai kapan pemasangan portal tersebut akan berlangsung. Sebab akan berpengaruh dengan besaran biaya angkutan barang.
Sejak penutupan jembatan pada Kamis (29/1) sopir truk harus menanggung kerugian berupa biaya angkut, serta waktu bongkar muat dan tenaga.
“Kami harus antre. Rela-rela, malam pukul 22 antre panjang sampai batas pukul 05 pagi pak. Besoknya bongkar, tertahan kembali sampai malam baru bisa lintas kembali,” ucapnya.
Sebelumnya, dalam pernyataannya Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Kalimantan Timur resmi mengumumkan rekayasa lalu lintas di Kota Samarinda.
Hal ini menyusul rencana Dinas PUPR untuk melakukan pemeriksaan geometri dan uji beban pada Jembatan Mahulu setelah berulangnya insiden tabrakan oleh ponton batu bara.
Kabid LAAJ Dishub Kaltim, Heru Santosa, mengungkapkan bahwa mulai Kamis (29/1/2026), pukul 12.00 Wita, Jembatan Mahulu dipasang portal setinggi 2,45 meter.
“Kendaraan berat pengangkut logistik, bahan pokok, hingga bahan bakar tidak bisa lagi melintas di Jembatan Mahulu. Tugas kami adalah memastikan distribusi logistik tetap berjalan dengan gangguan minimal,” ujar Heru usai rapat koordinasi, Rabu (28/1/2026) lalu.
Kata dia, mengingat Jembatan Mahkota II juga masih diportal dan Jembatan Mahakam I tidak direkomendasikan untuk beban berat, maka beban kendaraan logistik dialihkan sepenuhnya ke Jembatan Mahakam IV.
Namun, pengalihan ini tidak berlaku sepanjang hari. Dishub memberlakukan jam operasional khusus untuk kendaraan berat di Jembatan Mahakam IV, yakni mulai pukul 22.00 – 05.00 Wita. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post