Dialektis.co – Meskipun data menunjukkan adanya tren penurunan stunting dalam 8 bulan terakhir. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni mengingatkan agar semua pihak untuk tidak cepat puas.
Neni menyoroti fase krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Baginya intervensi tidak cukup hanya dengan pemberian makanan tambahan (PMT).
Isu sanitasi seperti ketersediaan jamban sehat dan akses air bersih, menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan bersama.
Hal itu ia tegaskan saat jadi pembicara utama di acara Diseminasi Audit Kasus Stunting tahun 2025 yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) di Aula BPU Kelurahan Kanaan, Senin (24/11).
Menariknya, dengan latar belakangnya sebagai dokter. Di acara ini, Neni tak sebatas berbicara sisi kebijakan. Tetapi hingga menyentuh akar persoalan kesehatan ibu dan anak. Sehingga acara ini jadi ajang “bedah masalah” yang mendalam dengan semangat menyelamatkan masa depan generasi penerus.
“Penanganan stunting adalah gerakan bersama. Kita harus mulai dari diri sendiri, lingkungan terkecil, dan memastikan budaya bersih serta perilaku sehat berjalan konsisten,” tegas Wali Kota Neni, seperti dilansir Prokopim.
Neni Moerniaeni percaya, dengan memadukan intervensi gizi, perbaikan sanitasi, dan pola asuh yang cerdas. Bontang bisa lebih cepat mewujudkan generasi bebas stunting.
“Saya juga ingatkan para orang tua untuk waspada terhadap paparan konten negatif yang bisa memengaruhi pola asuh dan psikologis anak,” pungkasnya.
Diketahui, Bontang memasang target prevalensi 14,4 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045 demi menyongsong Indonesia Emas membutuhkan kerja keras yang konsisten. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabun saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post