Dialektis.co – Pepatah lama “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, tampaknya jadi tambahan motivasi bagi Hairul Saleh.
Kepala SPNF SKB Kota Bontang itu baru saja menyelesaikan perjalanan akademis penting dalam ajang Benchmarking Program on Soft Skills Development for Non-Formal Educators yang berlangsung di Tianjin, China, pada 5-11 Februari 2026.
Sebuah pelatihan soft skills bagi pendidik pendidikan nonformal sekolah paket A, B, C tingkat internasional.
“Alhamdulillah praktik baik yang saya lakukan di SPNF SKB Bontang hingga terpilih menjadi salah 1 yang terbaik dari 7 praktik baik se-Indonesia yang kemudian diberangkatkan untuk bisa belajar langsung ke China,” jelasnya saat bincang dengan media ini.
Bagi Hairul Saleh, kehadirannya di Negeri Tirai Bambu tersebut bukan hanya membawa nama pribadi. Melainkan membawa marwah pendidikan Kota Bontang.
Ia berdiri setara bersama delegasi terpilih dari berbagai kota besar di Indonesia. Diantaranya, Medan, Jakarta, hingga Sumbawa Barat.
Tak tanggung. Hairul berkesempatan menyelami sistem pendidikan dan pengembangan karakter di salah satu universitas ternama, Tiangong University.
Diakuinya, selama di China selain bahasa. Perbedaan suhu dengan tanah air hingga di bawah nol derajat celsius menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi.
Namun, kata Hairul. Keramahan dan keterbukaan tim ahli di Tianjin menjadi kesan pertama yang tak terlupakan.
“Tidak hanya belajar di dalam kelas. Tapi juga melakukan kunjungan lapangan untuk melihat bagaimana teori diimplementasikan,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu poin krusial selama program ini adalah melihat bagaimana China mengelola visi pendidikannya. Bagaimana pendidikan di sana sangat mementingkan aspek pengalaman nyata.
Kesempatan itu dia juga berkesempatan menjalin relasi dengan pendidik dari berbagai belahan dunia. Mulai dari Bangladesh, Maroko, Madagaskar, hingga Sri Lanka.
Kata dia, perjalanan ini bukan tentang apa yang dirinya lihat. Melainkan tentang apa yang akan ia lakukan setelah kembali. Ilmu yang diperoleh harus hidup dalam implementasi.
Harapannya, pengalaman ini menjadi energi baru untuk memajukan pendidikan nonformal di Indonesia, menyesuaikan dengan konteks dan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.
“Seribu cerita mungkin tak cukup untuk menggambarkan makna perjalanan ini. Tetapi satu hal yang pasti, langkah kecil ini adalah bagian dari ikhtiar panjang kita bersama untuk menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (*).
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post