Dialektis.co – Sebuah fakta kontradiktif tersaji di pasar tenaga kerja Kota Bontang, Kalimantan Timur.
Betapa tidak, di satu sisi data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Bontang mencatat lonjakan jumlah pencari kerja (pencaker) sepanjang tahun 2025 mencapai 10.708 orang.
Di sisi lain, para pemilik Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang tengah bertumbuh justru mengeluhkan susahnya cari pekerja yang hendak mengisi posisi yang mereka tawarkan.
Baca juga: Sepanjang 2025, Jumlah Pencari Kerja di Bontang Tembus 10.708 Orang
Usai berita sebelumnya dipublis. Beragam tanggapan pembaca pun mengemuka melalui platform medsos media ini. Mengapa ribuan pelamar justru tidak mengisi kekosongan di sektor UMKM.
Apakah ini, bukti nyata fenomena dua kendala yang belakangan sering disebut pelaku UMKM Skill Mismatch dan Gap Ekspektasi.
Bima, salah satu pelaku UMKM di Kota Bontang memperkirakan banyak pelamar yang datang dengan gelar pendidikan yang mumpuni. Namun, tidak dibarengi dengan kemampuan yang menyesuaikan tren industri.
“Kini UMKM tidak hanya butuh admin biasa, tapi itu yang banyak. Kita butuhnya yang paham marketplace. Hingga bikin konten. Jadi kalau pun diterima, bertahan sebentar saja,” ujarnya kepada media ini.
Baca juga: Berkas Lamaran Pencaker Mengendap, Disnaker Bontang Buka Layanan Pengambilan
Menurutnya hal ini jadi realitas kendala yang dihadapi banyak UMKM.
Berbeda menilai, Agus pelaku bisnis cuci sepatu di Kota Bontang menduga hal itu terjadi lantaran tajamnya perbedaan ekspektasi pencari kerja dengan realitas lapangan pekerjaan.
Menurutnya banyak pelamar masih mendambakan suasana kantor layaknya perusahaan atau pabrik. Padahal daya serap pekerjaan tersebut kini relatif jarang tersedia.
Baca juga: Disnaker Bontang Sosialisasi Aplikasi Teman Naker Lewat Video Panduan, Simak Tutorialnya
“Mau langsung dapat kerja enak dengan gajih UMK sih kebanyakan. Padahal, kerja di UMKM itu banyak pengalaman dan nantinya berpotensi buka usaha sendiri,” ucapnya.
Fenomena ini harusnya jadi pengingat bagi keduanya. UMKM juga perlu mulai berinvestasi pada sistem pelatihan internal atau upskilling. Daripada hanya mengeluhkan atau mencari kandidat yang siap pakai.
Sementara, para pelamar suka tidak suka harus lebih adaptif. Serta realistis dalam memetakan skill mereka. Agar relevan dengan kebutuhan industri yang tegah berkembang. (*).
Baca juga: Loker Tak Seimbang Jumlah Pencaker, Disnaker Bontang Giatkan Pelatihan & Pemagangan
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Dialektis.co. Caranya dengan bergabung saluran Dialektis.co WhatsApp atau telegram di link https://t.me/+CNJcnW6EXdo5Zjg1 kemudian join.








Discussion about this post